1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Angga Dwimas Sasongko: Film Pendek Pintu Masuk bagi Sineas Baru

Lusi Triana | 3 Mei 2016 18:00
Sutradara film Filosofi Kopi ini mengatakan, film pendek Indonesia lebih berprestasi di kancah internasional.

Muvila.com – Film pendek kerap jadi awal mula para sutradara ternama dalam berkiprah di industri film. Sebut saja Martin Scorsese yang membuat What's a Nice Girl Like You Doing in a Place Like This sebagai tugas kuliahnya di New York University Tisch School of the Arts, atau sutradara ternama Polandia, Krzysztof Kieslowski, dengan film pendeknya, The Office, yang dibuat saat berkuliah di National Film School in Lodz pada tahun 1966. Melihat fakta-fakta itu, sutradara Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Angga Dwimas Sasongko, juga menuturkan hal sama.

“Menurut gue, film pendek itu menarik karena bisa jadi pintu masuk bakat-bakat baru. Bahkan kita bisa lihat calon sutradara besar di masa depan yang dimulai dari film pendek. Film pendek itu ajang pembuktian diri, dan juga menarik untuk bisa berkarier di film pendek karena cara bertuturnya berbeda dari film panjang,” papar Angga saat ditemui di daerah Mampang, Jakarta beberapa waktu lalu.

Angga pun mengatakan bahwa film pendek Indonesia jauh lebih berprestasi dibandingkan film-film panjangnya. “Dua tahun terakhir film pendek Indonesia masuk Cannes. Bahkan, filmnya Wregas selain masuk ke Cannes tahun ini, tahun lalu masuk ke Berlin (berkompetisi di program Berlinale Shorts, red). Banyak film pendek lain yang juga berkompetisi di festival film luar,” tambah sutradara Filosofi Kopi dan Surat dari Praha ini.

Tahun ini, Wregas Bhanuteja, sineas muda Indonesia, unjuk gigi di salah satu festival film bergengsi dunia, Festival Film Cannes, lewat film pendek terbarunya, Prenjak, yang masuk program Semaine de la Critique. Tahun sebelumnya, Lucky Kuswandi juga berkompetisi di program yang sama lewat film The Fox Exploits the Tiger's Might.

Selain Wregas dan Lucky, Sidi Saleh juga berhasil membawa pulang Orrizonti Award untuk Best Short Film di Festival Film Venice ke-71 lewat film pendeknya, Maryam. Kemudian ada juga sutradara perempuan Kamila Andini yang berkompetisi dalam program Short Cuts di Toronto International Film Festival (TIFF) pada tahun lalu lewat filmnya, Sendiri Diana Sendiri.

Angga, yang juga membuat film pendek untuk Tribe, mengatakan bahwa membuat film pendek harus mampu bereksperimen dengan cara berceritanya. Itulah yang ia terapkan dalam menggarap film pendek hasil dari reka ulang adegan Hammer Girl dalam film The Raid 2: Berandal.

“Film panjang karena kita punya durasi yang cukup panjang, kita bisa bermain dengan karakter, konflik. Kalau film pendek harus to the point, bereksperimen dengan cara bercerita. Kayak ini juga gue buat kan hanya 3-4 menit. Jadi gimana cara membuat adegan action yang cuma 4 menit, tapi kan nggak cuma action doang, kan ada set up-nya,” tutupnya.

Foto: Ivan Marlianto

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News