1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Bikin Film Pendek, Sutradara Rudi Soedjarwo Banyak Belajar

Reino Ezra | 1 Juni 2016 18:00
Rudi Soedjarwo, sutradara film Ada Apa Dengan Cinta?, menyutradarai film pendek spesial Ramadan persembahan Google Indonesia.

Muvila.com – Ada sebuah fakta menarik dari sineas Rudi Soedjarwo, sutradara yang tenar berkat Ada Apa dengan Cinta? (2002), Mengejar Matahari, dan Mendadak Dangdut. Selama 14 tahun berkecimpung di dunia film sebagai sutradara maupun produser, ternyata Rudi belum pernah membuat film pendek. Setelah sekian lama bergerak di film panjang, Rudi akhirnya berkesempatan menggarap film pendek untuk pertama kalinya, dalam sebuah proyek bersama Google Indonesia.

Film pendek yang belum berjudul resmi ini merupakan persembahan khusus Google dalam menyambut Ramadan, yang akan ditayangkan di YouTube mulai pekan ini. Film ini mengisahkan tiga anak muda yang tergabung dalam sebuah band, namun sebuah dilema dialami oleh salah satu anggotanya, yang harus memilih antara tampil dalam sebuah acara penting bagi karier band-nya, atau menghabiskan Ramadan bersama ibunya.

Ditemui Muvila di Jagakarsa, Jakarta Selatan pada 30 Mei lalu, Rudi menuturkan pengalaman barunya dalam menggarap film pendek yang melakukan pengambilan gambar di Bali dan Jakarta itu. Rupanya, tak hanya formatnya yang baru, film ini juga diakui Rudi memberikan pembelajaran baru sebagai seorang filmmaker. Simak wawancara eksklusif Muvila dengan Rudi di bawah ini.

Bagaimana awalnya mas Rudi bisa terlibat di proyek film pendek Google Indonesia ini?

Awalnya seperti layaknya iklan film pendek, nama saya di-submit menjadi salah satu calon, itu aja. Sebelumnya ditanya dulu sih mau atau nggak. 'Ini lo banget sih,' katanya, kalau udah begitu saya nggak tanya macem-macem lagi.

Siapa yang menggagas ceritanya?

Ceritanya dari pihak Google, mereka nge-brief, ada board-nya, apa yang penting untuk mereka share ke masyarakat, key frame-nya, karakter-karakternya udah ada semua, tinggal dari sayanya mau diapain ini agar jadi sebuah film.

Sebagai proyek dari Google, apakah keputusan kreatif film ini sepenuhnya ada di mas Rudi?

Ini 'kan pengalaman yang cukup baru buat saya. Pertama, saya nggak pernah bikin film pendek, dulu langsung film panjang. Jadi ini sebuah pengalaman baru, melibatkan sebuah teknologi yang sudah jadi bagian dari diri kita—tapi kita kadang memakai aja, nggak menyadari seberapa besar memengaruhi hidup kita. Ketika kita menjalani prosesnya, dari persiapan, diskusi kreatifnya, yang paling tahu tentang produk ini tetap tim Google. Saya juga nggak mau memakai yang cocok buat kita tapi nggak cocok buat Google, jadi saya bebaskan mereka untuk menjaga setiap visi dan misi mereka tetap ada, apa yang penting apa yang nggak, sehingga saya nggak terlalu keluar jalur.

Tetapi, karena ini pengalaman baru, jadi sangat seru. 14 tahun saya bikin film panjang terus, saya mengira akan sama aja kayak yang kemarin-kemarin, ternyata emang baru. Time frame-nya pendek tapi muatannya cukup dalam, juga belajar bagaimana kita menjaga sebuah brand yang cukup kuat. Ini sebuah pembelajaran dan pengalaman baru, dan yang pasti bekerja sama dengan tim Google yang luar biasa, saya belajar banyak dari mereka.

Apa yang membedakan film ini dengan konten bertema Ramadan lain?

Yang pasti persahabatan, itu satu hal yang kita sudah temukan dalam kehidupan sehari-hari kita. Momen Ramadan ini kita berusaha memotret arti persahabatan dalam konteks solidaritas. Seperti apa sih hubungan antarsahabat ketika sedang berpuasa. Saya rasa cocok, karena situasi saat ini kayaknya kok kita butuh lagi inspirasi mengenai toleransi dan solidaritas itu. Dan, kita sekarang punya teknologi yang membuat itu lebih dekat, lebih bisa tercapai. Teknologi yang bisa memudahkan hubungan-hubungan persahabatan, bukan malah melebarkan jarak. Jadi, ketika Google jadi kehidupan tiga remaja ini, kelihatan sekali bahwa bagaimana pengaruhnya terhadap kelangsungan persahabatan mereka.

Mengingat brand Google dan nama mas Rudi yang terbilang besar, adakah alasan khusus film ini memakai pemain-pemain baru sebagai pemeran utamanya?

Waktu itu dibilang memang pemainnya jangan ada yang ternama, karena untuk believability. Kalau kita bikin sebuah cerita film seperti ini dengan pemain yang ngetop, akan terlalu film banget dan kelihatan jualannya. Kita nggak mau ke arah situ, kita maunya yang lebih real. Real berarti wajah-wajah fresh, tapi mainnya juga bagus. Nah pemilihannya nggak semudah yang kita perkirakan. Ada poin di mana wajah-wajah ini harus enak dilihat. Kita tidak bicara ganteng atau cantik, tapi 'asyik'. Kata asyik itu bisa macem-macem, karakternya juga macam-macam. Itu aja yang agak lama, tapi kemudian casting director kita berhasil menemukan beberapa foto dan video yang luar biasa, yang menurut saya cukup bikin surprise. Saya malah mikir asyik juga kalau nanti bikin film panjang dengan orang-orang ini. Saya dulu tidak menemukan orang-orang ini, baru ketemu di proyek yang ini, yang baru saya lihat, segar banget dan mereka mainnya bagus.

Bagaimana cara mas Rudi mengolah performa akting pemain-pemain baru ini?

Untuk mengolahnya seperti layaknya pemain-pemain baru yang paling sulit adalah, pertama, menemukan chemistry di antara mereka dalam waktu yang pendek. Kalau film layar lebar kita punya enam atau empat bulan, yang ini lebih pendek. Kedua, menyamakan pemahaman akting itu apa dan untuk apa, itu juga butuh waktu. Sama latihan aja terus-terusan, kita genjot, adegan tersulit kita latih terus sampai menemukan chemistry yang membuat orang percaya mereka ini bersabahat, bukan dipertemukan lewat casting.

Berkisah tentang band, apakah lagu yang akan ditampilkan itu lagu orisinal?

Iya. Awalnya kita pakai melodi tema scoring dari Andi Rianto—saya pilih Andi karena dia dan saya udah saling memahamilah, nggak pusing-pusing nge-brief lagi, dia udah mengerti saya maunya gimana. Dia yang menciptakan melodi temanya, kemudian di-arrange jadi lagu yang upbeat. Liriknya dibikin oleh tim Google, yang sesuai dengan apa yang ingin diutarakan dari film ini.

Selain formatnya yang pendek, apa yang membuat film ini berbeda dari film-film mas Rudi sebelumnya?

Sebenarnya, saya juga belum pernah membuat sebuah film yang berhubungan sama perjalanan. Selama 14 tahun saya biasanya bikin film di satu kota. Itu sayanya yang kuper (kurang pergaulan, red) atau emang kesempatan belum datang aja. Tapi ini kita pindah-pindah lokasi, dan benar-benar kita lewati secara real. Titik-titik di Bali itu kita lewati secara real, supaya filmnya lebih jujur aja, jadi nggak colongan. Ketika kita sampaikan film ini ke masyarakat, jadinya lebih jujur.

Ketika kita ambil shot yang penting saat buka puasa, ya diambilnya harus pas jam buka puasa, maghrib, nggak bisa nggak. Tapi secara teknis lagi-lagi maghrib itu berarti kita kejar waktu. Alhamdulillah yang kita butuhkan sudah tercapai. Itulah kenapa tim harus solid. Kalau kita kejar matahari, tenggelamnya 'kan beda-beda di setiap tempat—ada yang cepat, ada yang harus ketutupan tebing dulu, mesti ada dialognya, adegan penting pula. Itu memang butuh persiapan yang cukup untuk mengkomunikasikan semuanya.

Foto header: Ivan Marlianto
Foto behind-the-scene: Google Indonesia

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News