1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Cesa David Luckmansyah: Editing Harus Perkuat Cerita

Reino Ezra | 23 November 2015 09:00
Editor film Cesa David Luckmansyah ungkap kriteria utama menilai kategori Penyunting Gambar Terbaik FFI 2015.

Muvila.com – Dalam penulisan kredit nama pemain dan kru utama di film-film, salah satu yang selalu tercantum adalah penyunting atau editor—kadang juga disebut penata gambar. Bidang penyuntingan atau editing pun menjadi salah satu kategori yang dilombakan dalam berbagai ajang penghargaan film, termasuk Festival Film Indonesia (FFI). Editor sebuah film berperan merangkai semua hasil syuting menjadi sebuah tontonan yang bisa dinikmati. Akan tetapi, penyuntingan ternyata bukan cuma sekadar menyambungkan atau memilih gambar-gambar terbaik.

Salah satu editor film Indonesia, Cesa David Luckmansyah, menjelaskan bahwa penyuntingan bukan semata-mata kemampuan teknis. Cesa menekankan bahwa titik berat dalam bidang penyuntingan ada pada cara bercerita yang baik. Bahkan, penyuntingan yang terbaik adalah ketika sebuah film dapat menuturkan ceritanya tanpa terasa ada penyuntingan.

"Teknik editing dari zaman dulu sampai sekarang ya sama: cut, dissolve, fade. Tools-nya itu saja. Cuma yang membedakan adalah bagaimana dia 'hilang' di dalam filmnya. Editing itu membentuk karakter dalam film, tapi orang yang awam nggak sadar dan nggak lihat, bahwa ini sebenarnya disambung, penuh dengan cut dan cut. Editing yang kuat adalah yang membuat ceritanya makin kuat. Editing kuat bukan dengan style, serba freeze frame, itu malah jadi visible. Keren, tapi nggak punya kedalaman cerita. Editing itu soal storytelling," ungkap Cesa ketika diwawancara di kantor redaksi Muvila di Jakarta, 19 November lalu.

Dasar pemikiran itu pun digunakan Cesa ketika ia diberi mandat untuk menjadi salah satu juri di FFI 2015. Cesa beserta empat juri lainnya telah menentukan lima film untuk masuk nominasi Penyunting Gambar Terbaik, untuk kemudian dipilih pemenangnya oleh sekitar 200 juri lain. Menurut Cesa, film yang layak masuk nominasi dan menang di kategori ini haruslah berpegang pada prinsip bahwa penyuntingan berhasil membuat penuturan ceritanya lebih baik.

"Kita (editor) bisa ngerasain bagaimana editing itu bisa menutupi kekurangan cerita. Misalnya, satu film kita rasa ceritanya biasa, tapi karena cara berceritanya enak, filmnya jadi enak, berarti editing jadi kuat nilainya. Ada film-film yang keren, tapi kita bisa ngerasain bahwa ini bukan editing-nya yang kuat, tetapi memang directing-nya udah mendesain editingnya, shot-nya pindah ke mana. Itu kita bisa tahu. Tapi, kalau filmnya kita lihat problem, yang 'dibentuk' oleh editing, di situ kita menilainya," papar Cesa.

Cesa sendiri adalah pemenang empat Piala Citra kategori Penyunting Gambar Terbaik, antara lain di tahun 2007 untuk film Get Married, dan tahun 2014 untuk film Soekarno bersama Wawan I. Wibowo. Tahun ini, kerja sama Cesa dan Wawan kembali berhasil masuk nominasi untuk film Hijab. Cesa menyadari bahwa menjadi juri sekaligus masuk nominasi dapat mempersulit objektivitas penilaian, belum lagi hubungan pertemanan antarpekerja film Indonesia terbilang dekat. Tetapi, ia menyatakan upayanya untuk menjadikan FFI ajang seadil mungkin, supaya jadi catatan yang baik untuk perkembangan dunia film.


"'Kan editor (di Indonesia) ini sedikit, yang aktif paling 16 orang, jadi melawan subjektivitas itu yang agak berat. Wah ini temen, wah ini punya gue sendiri. Ya, kita jangan lihat itunya, lihat bahwa kita bagian dari sejarah, jangan sampai film yang kita pilih karena teman. Saya kalau belajar sejarah film, lalu lihat film tahun 1950, misalnya, ya memang me-represent industri saat itu. Jangan sampai penghargaan ini kalah dari industrinya, industrinya bagus tapi penghargaannya nggak mencerminkan itu," jelas Cesa.

Para pemenang Piala Citra FFI 2015 sendiri baru akan diumumkan pada Senin, 23 November 2015 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Tangerang Selatan, Banten, dan disiarkan langsung oleh saluran NET. Daftar lengkap nominasi FFI 2015 bisa dilihat di sini. 

 

Foto: Ivan Marlianto

Catatan: Satu informasi dalam artikel ini telah direvisi. Sebelumnya dituliskan Cesa David Luckmansyah telah meraih dua Piala Citra, sementara yang benar adalah empat Piala Citra.

 

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News