1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Film Drama Thriller No Escape Dilarang Tayang di Kamboja

Muhammad Rizal Fikri | 18 Agustus 2015 13:00
Copyright: The Weinstein Company
Akibat dianggap melecehkan budaya lokal, film No Escape diboikot di Kamboja.

Muvila.com – Kabar pemboikotan film kembali terjadi. Kali ini film Hollywood terbaru, No Escape, yang dibintangi Owen Wilson dan Pierce Borsnan diboikot di Kamboja. Seperti dilaporkan Phnompenhpost, Kementerian Seni dan Budaya Kamboja telah memboikot film No Escape karena dinilai telah menyalahgunakan bahasa Khmer--bahasa yang digunakan hampir 90 persen warga Kamboja.

Trailer filmnya menunjukkan karakter Jack Dwyer (Owen Wilson) harus membawa istri dan kedua anaknya untuk pindah ke sebuah negara di Asia Tenggara karena urusan pekerjaan. Hari pertama tinggal di negara tersebut, kerusuhan besar terjadi, dan para pemberontak memburu warga negara asing yang tinggal di negara tersebut.

Dalam trailer tersebut, setting lokasi yang digunakan sebenarnya berada di negara Thailand (meskipun sinopsisnya tak menyebutkan secara spesifik negara mana yang dituju, red). Selain setting lokasi yang mirip budaya Khmer, bahasa yang tampak di bangunan-bangunan serta tameng polisi anti huru-hara juga menggunakan bahasa Khmer. Hal inilah yang menjadikan film ini diboikot di Kamboja.

Sin Chanchaya, Kepala Departemen Perfilman Kamboja, menyatakan bahwa keputusan untuk melarang peredaran No Escape ini diambil, karena hanya dari trailernya saja, film ini sudah mengundang gelombang protes yang tinggi di media sosial. “Kami akui bahwa beberapa adegan sungguh mengganggu kami tentang bagaimana kami melihat budaya kami sendiri,” ungkap Chanchaya, seperti dikutip Phnompenhpost.

Lebih jauh lagi, Chanchaya juga berkomentar, penggunaan huruf-huruf Khmer itu sejatinya adalah satu cara untuk mendapat izin untuk melakukan syuting di Thailand, karena adegan trailernya menggambarkan kisah nyata yang pernah terjadi di Thailand. “Kami tahu bahwa kebebasan Hollywood dalam membuat film sangat luas, bahkan terlalu luas. Oleh karena itu, tidak ada cara untuk menghentikan hal itu selain memboikot filmnya” jelas Chanchaya.

Untuk memaksimalkan keputusan pemerintah ini, Departemen Perfilman sudah berkoordinasi dengan distributor lokal untuk tidak memasukkan film ini ke Kamboja.

Phnompenhpost juga mendapatkan keterangan dari fotografer asal Thailand yang terlibat dalam pemotretan film No Escape. Roland Neveu mengungkapkan bahwa dirinya paham mengenai kekhawatiran warga Kamboja, karena mereka pasti melihat kesamaan setting lokasi film tersebut dengan kondisi Kamboja sendiri. Tetapi Neveu juga menegaskan bahwa film No Escape tak mempunyai tujuan untuk menggambarkan negara tertentu, bukan Kamboja, apalagi Thailand.

“Yang terpenting itu plot ceritanya bukan setting-nya, tapi kurasa pemerintah tak akan segampang itu melihat film ini sebagai fiksi belaka, mungkin mereka akan mempertimbangkan kembali setelah mereka menonton filmnya secara penuh,” jelas Neveu.

Gelombang protes ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Kamboja. Thailand sebagai negara yang dipakai untuk memproduksi film ini juga sempat memboikot film ini melalui pihak kemiliteran. Tetapi akhirnya dengan kesepakatan sensor beberapa konten yang dianggap sensitif, film ini akhirnya disetujui oleh Menteri Kebudayaan dan akan dirilis di Thailand awal September nanti.

No Escape sendiri akan dirilis di Amerika pada 27 Agustus nanti. Sedangkan beberapa negara lain mengikuti setelahnya, khusus untuk Indonesia, hingga sekarang belum ada tanggal resmi mengenai perilisan film ini. Sembari menunggu perilisannya simak dulu trailernya di bawah ini.



Sumber: Phnompenhpost

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News