1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Film Surat dari Praha, Cinta yang Terkubur Masa

Reino Ezra | 29 Januari 2016 11:30

Film Surat dari Praha tuturkan kisah cinta melintasi dua generasi.

Muvila.com – Sineas Indonesia, Angga Dwimas Sasongko tahun ini mempersembahkan karya terbarunya Surat dari Praha, yang sekaligus jadi film layar lebar ketiga dari rumah produksi Visinema Pictures miliknya. Film ini mengambil inspirasi dari beberapa lagu karya Glenn Fredly, juga dari latar peristiwa nyata tentang orang-orang Indonesia yang menjadi eksil politik di Praha. Namun, film yang skenarionya ditulis oleh M. Irfan Ramli ini utamanya sebuah roman, tentang penelusuran dua orang beda generasi terhadap cinta.

Film ini mengikuti seorang wanita muda bernama Laras (Julie Estelle), yang tengah dalam proses bercerai dari suaminya. Dalam proses ini, Laras juga harus memenuhi wasiat dari ibunya, Sulastri (Widyawati), untuk mengantarkan sebuah kotak dan sepucuk surat ke sebuah alamat di kota Praha, Republik Ceko. Penelusuran Laras menghantarkannya pada sosok Jaya (Tio Pakusadewo), orang Indonesia yang telah lama bermukim di Praha, dan kini bekerja sebagai seorang petugas kebersihan di gedung pertunjukan.

Dengan niat yang sederhana, Laras tak menyangka ia akan mendapat sambutan kurang baik dari Jaya. Jaya menolak benda yang dibawa Laras, bahkan mengusirnya. Malangnya, Laras jadi korban perampasan di jalanan Praha, sehingga satu-satunya orang yang bisa ia minta tolong segera adalah Jaya. Selama menunggu bisa kembali ke tanah air, Laras ditampung di tempat tinggal Jaya bersama anjing kesayangannya, Bagong, dan dibantu juga oleh mahasiswa Indonesia bernama Dewa (Rio Dewanto).

Dari sana Laras perlahan mulai mengetahui siapa Jaya sebenarnya. Pria tersebut bukan cuma seorang eksil yang tertahan di Praha sejak perubahan peta politik Indonesia di tahun 1965-1966. Tetapi, Jaya—tanpa disadarinya sendiri—juga alasan mengapa selama ini Sulastri begitu berjarak dengan keluarganya sendiri.

Film Surat dari Praha mulai dikembangkan oleh Visinema Pictures sekitar tahun 2012 di tengah-tengah produksi film garapan Angga sebelumnya, Cahaya dari Timur: Beta Maluku, yang ikut diproduseri Glenn dan skenarionya turut ditulis Irfan. Diawali niat membuat karya memperingati 20 tahun karier musik Glenn, para sineas ini akhirnya sepakat untuk mulai mengembangkan proyek film yang menggunakan lagu-lagu Glenn sebagai elemen penting, serta menggabungkannya dengan latar sejarah. Khususnya, di sini diangkat tentang para mantan peserta program Mahasiswa Ikatan Dinas (MAHID) era Soekarno yang tak lagi menginjak tanah air sejak pemerintahan Indonesia berganti ke Orde Baru.

"Kami punya kecenderungan yang sama, kegemaran dan ketertarikan yang sama terhadap sejarah. Jadi, kami sama-sama sepakat bahwa kita butuh alternatif bagaimana bertutur tentang sejarah. Kami sepakat bahwa peristiwa 1965 itu isu yang besar banget, tapi kemudian kami mencoba—bukan menyederhanakan atau menggampangkan, tetapi membuat itu lebih bisa diterima oleh banyak orang. Jadi kami pakai musik, cerita cinta, sesuatu yang personal, yang semua orang bisa relate," papar Irfan dalam konferensi pers di Jakarta, 25 Januari lalu.

Proses riset diakui Angga cukup panjang dan sempat mengalami sedikit hambatan. Selain data tertulis, tim produksi justru tidak dapat segera menemukan sumber primer, yaitu para mantan MAHID yang masih ada di Praha, demi menambah dimensi film ini menjadi lebih riil.
"Semenjak kita riset yang paling sulit memang mencari kontak dengan mereka. Tapi, kemudian partner produksi kita di sana mencari kontak mereka. Kebetulan tetangga produser kita di Praha adalah ibu-ibu yang senang ikut senam taichi di pinggir sungai Vlatava. Senam itu senamnya komunitas Indonesia, di situ ada sekitar lima orang MAHID," tutur Angga.

"Orang-orang ini masih hidup, masih sehat, kalau kita tanya bercerita masih sangat jelas dan detail. Dari situlah kita sebenarnya punya banyak materi primer untuk skenarionya. Sampai beberapa dialog memang kita dapat dari mereka," jelasnya lagi.

Proses syuting film ini akhirnya dimulai pada pertengahan tahun 2015. Pengambilan gambar diawali di Jakarta, kemudian berlanjut di Praha yang porsinya lebih dominan. Surat dari Praha bisa disaksikan di bioskop nasional mulai 28 Januari ini. Tonton trailer-nya di bawah ini.

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News