1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Film The Giver, Ilusi Masyarakat Sempurna

Reino Ezra | 29 September 2014 20:00
Film drama sci-fi The Giver gambarkan sebuah masyarakat serba sempurna yang menyimpan rahasia gelap.

Muvila.com – Rentetan film adaptasi novel dengan setting masa depan yang ditargetkan pada konsumen remaja dan dewasa muda kini bertambah dengan The Giver. Awalnya terbit sebagai novel dengan target pembaca anak-anak, The Giver akhirnya dikembangkan menjadi sebuah film drama fiksi ilmiah berskala besar dan dibintangi aktor-aktris terkenal, seperti Jeff Bridges, Meryl Streep,Katie Holmes, hingga Taylor Swift.

The Giver berlatar tahun 2048, tentang sebuah Komunitas yang ditata sempurna. Tidak ada perang ataupun persaingan, segala sesuatu dan semua orang berlaku tertib, santun, penurut, seragam, berfungsi sebagaimana mestinya.Setiap anak yang lahir pun tidak harus dibesarkan oleh keluarga biologisnya, tetapi oleh keluarga yang dianggap pantas. Setelah menginjak usia belasan, anak-anak ini kemudian akan ditentukan arah profesinya oleh para sesepuh, sesuai dengan potensi masing-masing.

Namun, karena potensi yang dimilikinya, Jonas (Brenton Thwaites) telah ditentukan menjadi sedikit berbeda dari teman-temannya. Ia telah ditetapkan sebagai penerus Sang Penerima Memori (Receiver of the Memory), yaitu satu-satunya orang di Komunitas yang memiliki ingatan tentang sejarah masa lalu. Untuk itu, ia harus belajar dari Sang Pemberi (The Giver, diperankan Jeff Bridges), agar nantinya ia menjadi seorang penasihat bagi para sesepuh dan Komunitas.

Perlahan-lahan memiliki pengetahuan dan ingatan tentang peradaban manusia di masa lalu, Jonas mengalami berbagai hal yang tak mudah (dan tak boleh) dideskripsikan kepada teman-temannya. Sebagai anak yang terlahir di sebuah masyarakat yang damai, tenteram, dan tanpa gejolak, ia harus melihat kenyataan bahwa ternyata manusia sebenarnya memiliki sesuatu yang tak dikenal penduduk Komunitas: rasa. Rasa yang dapat membawa pada kesukaan, tetapi juga dapat membawa perseteruan, dua hal yang dianggap berbahaya bagi kestabilan Komunitas.

Bila dibandingkan dengan judul-judul yang sudah terlebih dahulu diangkat jadi film, sebut saja The Hunger Games dan Divergent, novel The Giver karya Lois Lowry sebenarnya berusia lebih "senior", karena pertama kali dirilis tahun 1993. Niat memfilmkan The Giver sebenarnya sudah ada tak lama setelah novelnya diterbitkan. Adalah Jeff Bridges sendiri yang ngebet ingin memfilmkannya, bahkan bersedia menjadi sutradara. Hanya saja, proyek ini tak kunjung mendapat dukungan produksi yang memadai.

Baru pada akhir tahun 2012, perusahaan film Walden Media dan studio The Weinstein Company menyetujui versi film dari The Giver, dengan Phillip Noyce (Salt, Clear and Present Danger) sebagai sutradaranya dan Michael Mitnick dan Robert B. Weide sebagai penulis skenarionya. Bridges pun tetap punya andil sebagai salah satu produser, selain mendapat peran sebagai Sang Pemberi.

Proses pencarian pemain lainnya pun berjalan lancar. Aktor Australia yang baru tampil sebagai pangeran di Maleficent, Brenton Thwaites ditunjuk sebagai Jonas, lalu Odeya Rush didapuk sebagai Fiona, sahabat yang kemudian jadi love interest Jonas, serta Cameron Monaghan sebagai sahabat Jonas yang lain, Asher. Melengkapi jajaran pemerannya, film ini mengajak Katie Holmes dan Alexander Skarsgård sebagai "orang tua" Jonas,  dan penyanyi Taylor Swift sebagai Rosemary.

Film ini juga menandari pertama kalinya Bridges main film bersama sesama pemain kawakan pemenang Piala Oscar, Meryl Streep, yang berperan sebagai Chief Elder (kepala sesepuh) yang memimpin Komunitas.

Selain diisi oleh pemain terkenal, The Giver juga jadi sebuah persembahan yang cukup unik dari segi visual. Di luar penataan set yang futuristis, Noyce kali ini menggunakan pembedaan warna gambar sebagai simbol dalam menunjukkan cara pandang penduduk Komunitas. Itulah sebabnya, film ini dipresentasikan dalam gambar hitam putih dan gambar berwarna secara bergantian.

"Dalam novelnya, semua orang (di Komunitas) melihat secara monokromatis, kecuali dua orang, yaitu Sang Pemberi dan Sang Penerima. Skema warna di film ini mengikuti persepsi tokoh utamanya, Jonas, yang tadinya terbatas lalu mulai meluas seiring dunia yang penuh warna diperlihatkan padanya oleh gurunya, Sang Pemberi. Ia berangsur-angsur mulai melihat berbagai macam warna, dan demikian juga penonton," ungkap Noyce.

Film The Giver kini bisa disaksikan di bioskop-bioskop Indonesia. Simak trailer-nya di bawah ini.

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News