1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Jadi Bintang K-pop, Mimpi Anak-anak Korea Selatan

Angga Rulianto | 8 Februari 2015 16:00
Copyright: muvila
Survei menunjukkan bahwa 20 persen anak-anak Korea Selatan ingin menjadi bintang K-pop ketika sudah dewasa.

Muvila.com – Sembilan orang perempuan muda Korea Selatan itu berlatih keras untuk menyempurnakan koreografi tarian mereka. Peluh kulit mereka yang semuanya bertubuh jenjang dan ramping. Sudah berhari-hari mereka latihan tarian itu. Ada pula latihan menyanyi maupun menari sambil bernyanyi. Segala latihan dilakukan para personel 9 Muses itu dengan disiplin demi menjadi girlband yang tenar. 

Namun, di sisi lain, semua aktivitas tersebut bikin para perempuan ini stres. Belum lagi ditambah dengan manajer yang galak, salah satu anggota girlband ngambek, kecelakaan, hingga putus asa. Sampai-sampai salah satu anggota girlband ini bilang, "Tak ada ada yang memperlakukan saya selayaknya manusia," di depan kamera film dokumenter yang disutradarai Hark Joon Lee

Itulah salah satu fragmen dalam film dokumenter 9 Muses of Star Empire. Film dokumenter ini membuka banyak hal tentang apa yang terjadi, baik maupun buruknya, di balik dapur industri K-pop. Saat Hark Joon-Lee syuting film dokumenter ini pada tahun 2012, girlband 9 Muses sendiri belum mencapai kesuksesan. Mereka masih gonta-ganti personel dan tertatih-tatih untuk bisa populer. 

Realitas yang diungkap dokumenter 9 Muses of Star Empire bukanlah isapan jempol. Para anak-anak muda di negeri ginseng itu kini memang berlomba-lomba untuk menjadi bintang K-pop baru yang bisa mendunia. Sebutlah seperti Psy, rapper tenar yang video “Gangnam Style”-nya menjadi hit di YouTube. Malahan, faktanya, impian untuk menjadi bintang K-pop ini sudah terpupuk sejak anak-anak. 

Seperti dilansir Reuters, sebuah survei terbaru yang dilakukan kepada anak-anak berusia menjelang remaja di Korea Selatan menunjukkan bahwa sebanyak 21 persen responden ingin menjadi bintang K-pop ketika sudah dewasa kelak. Inilah pilihan karier yang paling populer. Anak-anak Korea Selatan banyak yang terbius dengan popularitas global yang sudah dimiliki banyak bintang K-pop. 

Tingginya minat masyarakat (baca: konsumen) dunia terhadap K-pop memang tak terbantahkan. Menurut data perpajakan Korea Selatan seperti dikutip The Hollywood Reporter, pendapatan rata-rata tahunan para penyanyi Korea melonjak hingga lebih 72 persen sejak tahun 2010. Peningkatan ini terjadi karena para musisi telah berhasil melebarkan penjualan album dan menghelat konser di pasar internasional. 

Bahkan, menurut data Bank of Korea, hasil dari penjualan berbagai produk Korean Wave, seperti musik dan serial TV, di luar negeri meningkat dua kali lipat dalam rentang lima tahun. Pada tahun 2013, angka penjualannya mencapai 730 juta dolar AS

Potensi pasar K-pop di dunia yang terbilang tinggi ini, terutama di Asia, lalu juga membuat para anak-anak muda yang ingin menjadi bintang untuk mempelajari bahasa Mandarin. Sebab, ternyata K-pop banyak digandrungi oleh masyarakat di China. Tak sedikit pula band Korea Selatan yang mencoba masuk pasar musik di China. 

Salah satu anak yang bercita-cita untuk jadi terkenal itu adalah Kim Si-yoon. Setiap harinya, gadis berusia sembilan tahun ini bangun pukul 7.30 lalu berangkat ke sekolah. Setelah itu, ia ikuti latihan vokal dan menari berjam-jam sebelum akhirnya tidur di tengah malam. Kim sadar sekali bahwa butuh pengorbanan untuk mewujudkan cita-citanya. 

"Ini memang berat. Jadi saya mencoba untuk tetap ceria dan ketika saya telah berusaha, saya bisa perform lebih baik," ujar siswi kelas tiga sekolah dasar ini, sambil bersiap-siap untuk latihan menari meskipun dirinya sedang terserang flu. 

Perjuangan Kim untuk menjadi bintang K-pop ini didukung penuh oleh ibunya, Park Sook-hee, yang setiap hari setia menemani Kim ikuti seabreg aktivitas. Menurut Park, persaingan untuk menjadi bintang K-pop memang sangat ketat, apalagi banyak anak-anak berbakat lainnya. Persaingan ketat ini juga menuntut uang yang tak sedikit. Setiap bulannya, Park harus mengeluarkan 700 ribu won untuk biaya les vokal dan tari. 

Baik Kim maupun ibunya bersedia menguras fisik, tenaga dan tabungan demi menjadi bintang K-pop. Kim sendiri berlatih keras untuk ikuti audisi supaya bisa direkrut oleh perusahaan manajemen artis ternama, seperti YG Entertainment atau S.M. Entertainment. Walau begitu, Kim dan ibunya sadar bahwa kelak kesuksesan akan mengorbankan pendidikan. Kim amat mungkin drop out dari sekolah. 

"Waktu yang sudah mereka sisihkan sebenarnya menyakitkan dan bikin sulit, tapi hasil yang didapat pun layak," ujar Jang Ha-jin, salah satu eks peserta program pelatihan yang diadakan S.M. Entertainment sepuluh tahun lampau. Jang ikuti pelatihan itu setelah memenangkan sebuah kontes bakat. Akan tetapi, ia mengubah lalu haluan hidupnya dan memilih hidup 'normal'. Beberapa rekan Jang dalam program pelatihan itu kini sudah menjadi personel di girlband tenar Girls' Generation

Kesuksesan awal juga dialami Sowon, salah satu personel girlband anyar G-Friend yang baru merilis debut albumnya pada bulan lalu. Perempuan berusia 20 tahun ini mengaku lebih senang ketimbang lelah, walaupun tidak bisa bertemu keluarganya atau jalan-jalan dengan teman-temannya. Sowon telah menghabiskan waktu lima tahun untuk latihan sebelum akhirnya bisa merilis album perdana bersama G-Friend. 

"Yang saya pikirkan hanya satu hal, lagu kami tetap diputar. Saya harap bisa tampil di mana saja, kapan saja, bahkan ketika saya tidak bisa tidur atau saat saya sedang lelah," kata Sowon.

 

 

 

 

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News