1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Karena Kekuatan Bahasa, Film AADC Jadi Bagian Kehidupan Zaman

Angga Rulianto | 11 April 2016 16:00
Menurut Riri Riza, sutradara film AADC 2, tidak banyak film yang berinvestasi atau berikan perhatian lebih terhadap bahasa.

Muvila.com – Sebelum film Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) tayang di bioskop dan digilai para penonton kala itu—yang kebanyakan dari anak-anak muda, Chairil Anwar sudah dikenal luas sebagai sastrawan dari Angkatan '45. Tapi, boleh jadi pengetahuan terhadap Chairil hanya sebatas itu. Tak banyak dari 2,7 juta penonton AADC yang benar-benar mengakrabi karya-karya Chairil. 

AADC, yang menampilkan beberapa penggal puisi Chairil dan juga menjadikan puisi sebagai senyawa penting dalam ceritanya, mengubah kondisi itu. Buku berjudul Aku: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Seorang Chairil Anwar karangan Sjuman Djaya, yang dibaca sekaligus menautkan hati Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastrowardoyo) dalam kisah AADC, pun diterbitkan ulang.

Yang mencari-cari buku lawas itu di toko buku modern pada akhirnya bukan cuma Cinta, tapi juga para penonton AADC di dunia nyata yang mulai kepincut pada karya sastra. Semua itu berkat AADC hasil arahan sutradara Rudi Soedjarwo. Lewat medium film karya para sineas Indonesia pasca reformasi ini, sastra diberikan tempat terhormat.

Dampaknya bisa dilihat dari pengalaman M. Aan Mansyur, penyair asal Makassar, Sulawesi Selatan. Aan-lah yang menulis 31 puisi untuk film AADC 2 yang disutradarai Riri Riza dan akan beredar di bioskop-bioskop ada 28 April nanti.

"Saya juga dulu mengenal puisi tidak terlalu dekat selain dari buku-buku pelajaran sekolah dan menganggap dunia semacam itu hanya identik dengan nama-nama sastrawan tua yang rasanya susah sekali disentuh. Pada saat film itu beredar, saya kuliah di Fakultas Sastra dan sedang giat-giatnya belajar menulis puisi—dengan  tidak cukup percaya diri. Beberapa orang dekat saya bahkan dengan terang-terangan berkata, 'Menulis puisi? Mau jadi apa kau nanti?'" ujar Aan dalam wawancara dengan Muvila

Lewat film AADC 2, yang skenarionya ditulis Mira Lesmana dan Prima Rusdi, Aan berharap bahwa dengan kembali masuknya puisi ke dalam film, maka orang-orang bisa menjadi percaya lagi pada kata-kata dan bahasa, serta lebih berpikir sebelum membicarakan sesuatu. Harapan Aan lainnya, orang-orang bisa mempercayai kekuatan bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi atau bahasa yang kerap dikuasai oleh tema-tema ekonomi dan politik. 

"Mungkin tidak banyak film yang punya investasi atau perhatian lebih terhadap itu (bahasa), dan mungkin buat kita kali ya, bukan hanya buat film ini, tapi buat kita itu puisi, bahasa, kata itu adalah sesuatu yang mungkin bisa menjadi awal dari semuanya. Dan kalau ada yang mau dikenang dari film (AADC) saya rasa banyak banget itu film yang istilahnya yang quote itu bagian dari kehidupan zaman, itu karena dia punya kekuatan bahasa," jelas Riri Riza dalam Muvila Roundtable with AADC.

Simak lebih lanjut penjelasan Riri Riza tentang bahasa dan puisi dalam film AADC dan AADC 2 dalam salah satu video Muvila Roundtable with AADC, yang juga menghadirkan produser Mira Lesmana dan tiga pemainnya, yakni Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra dan Adinia Wirasti. Tonton di bawah.

Foto: Ivan Marlianto

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News