1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Lihat Karya Lewat Pita Film Seluloid di Lab Laba-Laba

Reino Ezra | 4 April 2015 11:29
12 seniman pamerkan karya menggunakan film seluloid di tempat bersejarah perfilman nasional.

Muvila.com – Penggunaan pita film seluloid untuk syuting ataupun memutar film memang sekarang sudah sangat jarang. Akan tetapi, bukan berarti media ini harus punah, dan itulah yang mendasari inisiatif Lab Laba-Laba dalam berbagi pengetahuan sekaligus melestarikan media seluloid bagi para peminat film di Indonesia. Untuk mendukung gerakan ini, Lab Laba-Laba kini mengadakan Pameran Lab Laba-Laba, sebuah rangkaian acara untuk merayakan format film seluloid di salah satu tempat bersejarah bagi perfilman nasional, yaitu di gedung Produksi Film Negara (PFN), Jakarta Timur.

Diadakan setiap Sabtu dan Minggu dari 4 s.d. 26 April 2015, Pameran Lab Laba-Laba akan mengadakan workshop, diskusi, tur laboratorium, pentas musik, dan juga pameran karya seni berbasis film seluloid dari 12 orang seniman. Ke-12 seniman itu adalah Edwin, Tumpal Tampubolon, Anggun Priambodo, Dyantini Adeline, Yovista Ahtajida, Rizki Lazuardi, Fransiskus Adi Pramono, Ruddy Hatumena, Luftan Nur Rochman, Ari Dina Krestiawan, Anton Ismael, dan MG Pringgotono. Karya mereka tak hanya berupa rekaman audio visual atau film, tetapi juga menggunakan pita film seluloid untuk seni instalasi.

Sementara untuk meramaikan perhelatan ini, akan tampil pula musik dari Glovvess, Crayola Eyes , Adrian Adioetomo, Mondo Gascaro, dan lain-lain. Semua kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.



Pameran Lab Laba-Laba merupakan bagian dari rangkaian program Mengalami Kemanusiaan, yang diinisiasi oleh Babibutafilm, dan merupakan follow-up dari kegiatan Film Musik Makan yang diadakan 21 Maret lalu. Jika Film Musik Makan—meliputi pemutaran film, diskusi, dan pertunjukan musik--diadakan di pusat kebudayaan Jerman, Goethehaus di Jakarta, maka Pameran Lab Laba-Laba sendiri akan dihelat langsung di salah satu laboratorium film seluloid yang masih tersisa di Indonesia.

Inisiatif Lab Laba-Laba sendiri saat ini sudah berjalan satu tahun di laboratorium PFN. Berpegang pada pandangan bahwa pita film seluloid masih penting sebagai medium artistik dan ilmu pengetahuan, Lab Laba-Laba melakukan beberapa kegiatan, utamanya adalah memfungsikan kembali laboratorium film seluloid di PFN, dan juga mendata koleksi film dalam format seluloid yang tersimpan di PFN. Lewat kegiatan ini, para anggota bisa kembali belajar memroses film seluloid juga bereksperimen dengan format tersebut. Dan beberapa contoh hasilnya, akan bisa dilihat di Pameran Lab Laba-Laba.


Bersamaan dengan Pameran Lab Laba-Laba, rangkaian program Mengalami Kemanusiaan juga mengadakan program pemutaran film dari 3 s.d. 26 April di Kineforum Jakarta, bertajuk #KolektifJakarta. Di sini akan diputar beberapa film panjang dan pendek pilihan, baik produksi terbaru maupun lama, yang sesuai dengan tema Mengalami Kemanusiaan.

Ada film panjang yang tergolong baru, seperti Siti (Eddie Cahyono), Tabula Rasa (Adriyanto Dewo), Selamat Pagi Malam (Lucky Kuswandi), Rocket Rain (Anggun Priambodo), dan Parts of the Heart (Paul Agusta). Ada pula produksi lama seperti Postcards from the Zoo (Edwin), Eliana Eliana (Riri Riza), Arisan (Nia Dinata), Cinta dalam Sepotong Roti (Garin Nugroho), hingga Suci Sang Primadona (Arifin C. Noer). Juga akan diputar film pendek pilihan seperti Sendiri Diana Sendiri (Kamila Andini), Kisah Cinta yang Asu (Yosep Anggi Noen), The Fox Exploits the Tiger's Might (Lucky Kuswandi), dan lain-lain. Pemutaran film akan diikuti dengan diskusi dari pihak filmmaker.

Untuk informasi lengkapnya, silahkan follow Twitter @filmmusikmakan dan @lablabalaba.

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News