1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Lucky Kuswandi: Film Pendek Jadi Jalan untuk Eksplor Gaya Visual

Angga Rulianto | 30 Mei 2016 13:00
Sutradara The Fox Exploits The Tiger's Might ini juga menganggap pesan moral tidak penting.

Muvila.com – Membuat film pendek adalah hal paling menyenangkan dan mengesankan bagi Lucky Kuswandi. Sebab, bagi sutradara film Madame X dan Selamat Pagi, Malam ini, lewat film pendek ia bisa bebas mengkreasikan ide dan mengolahnya ke dalam suguhan audio visual tanpa harus peduli selera pasar.

“Karena film pendek itu tidak punya commercial value, sehingga kita sangat terbebaskan mengeksplor kreativitas kita di situ without even thinking about the market. It’s a good way untuk mengeksplor visual style. Membuatnya pun tidak membutuhkan waktu yang lama, tidak menguras energi yang terlalu banyak. It’s really fun, jika dibandingkan dengan feature film,” jelas Lucky dalam diskusi film pendek yang diadakan Plaza Indonesia Film Festival 2016 pada Kamis pekan lalu.

Dalam diskusi yang bekerja sama dengan Slate.id ini, Lucky menyemangati para peserta untuk mulai membuat film pendek. Lucky sendiri, sejak tahun 2006 hingga saat ini, telah menyutradarai tujuh film, termasuk film pendek The Fox Exploits The Tiger's Might, Borrowed Time, Still, dan menyutradarai salah satu segmen dalam film dokumenter At Stake.

Kisah film-film garapan Lucky selalu bernafaskan isu-isu yang sensitif, seperti soal ras, gender, dan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Salah satunya adalah The Fox Exploits The Tiger's Might, yang masuk kompetisi Semaine de la Critique di Cannes Film Festival 2015 dan juga berhasil menang Piala Citra kategori Film Pendek Terbaik dalam FFI 2015.

Lewat isu-isu tersebut dalam film-film bikinannya, Lucky ingin menciptakan sesuatu hal yang baru melalui perspektif berbeda yang mungkin tidak dimiliki oleh kebanyakan masyarakat  di Indonesia. Ia bahkan berpendapat bahwa dirinya ditakdirkan untuk membuat film yang sesuai dengan isi kepalanya yang anti-mainstream.

“Saya pernah baca quote bunyinya, ‘When you are born and you feel like you don’t fit in in the world, it means you are meant to create a new one’. Aku selalu ngerasa nggak fit-in, jadi aku selalu interested in stories about ‘peope who don’t fit’ ini, whether mereka nggak fit in secara ras maupun gender,” tegas Lucky.

Selama  berproses kreatif, Lucky memang sengaja ingin menaburkan isu-isu sensitif ke dalam film-filmnya dengan tujuan untuk membuka pikiran dan membuat masyarakat gelisah, sehingga tercipta ruang diskusi untuk membahas apa yang mereka rasakan.

“Salah satu cara untuk engage audiens dalam isu-isu sensitif ialah dengan membuat karya yang bikin mereka gelisah dengan isu tersebut. Soal LGBT, ras, atau women issue, saya tidak pernah memaksakan perspektif saya sama dengan mereka. Kita hanya perlu membuka pikiran mereka sedikit dan membiarkan diskursus itu terjadi, karena film itu dapat berefek besar jika memancing diskusi,” kata Lucky.

Lulusan Art Center College Pasadena, Amerika Serikat ini juga tak menganggap penting soal keberadaan pesan moral dalam film. “Nggak pernah ada pesan moral. We shouldnt tell people how they should behave or react. Film yang baik adalah film yang tidak menggurui,” jelas Lucky.

Di sesi akhir diskusi, Lucky terus memberikan semangat kepada para peserta untuk mulai merealisasikan ide-ide mereka ke dalam film pendek.

We have to gain trust dengan terus berjuang membuktikan kepada orang-orang kalau kita punya ide yang keren. You have to be very clear with your idea. Passion kamu harus keren. Jika kamu terlihat passionate, bakal banyak orang-orang keren yang mau bantu. Yang paling penting, kamu harus commit sama idemu. Banyak orang yang punya ide, tetap dia tidak punya komitmen untuk menyelesaikan idenya itu. I know it might be hard, but don’t ever stop!” tutup Lucky.

 

Penulis: Bardjan T

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News