1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Attack on Titan Dilarang Tayang di Festival Film Internasional Shanghai

Mia Vita Della | 16 Juni 2015 18:00
Copyright: smcp
Film Attack on Titan dilarang tayang di Shanghai International Film Festival setelah film tersebut muncul dalam black list Departemen Kebudayaan Pemerintah China.

Muvila.com – Shanghai International Film Festival telah menghapus film anime Jepang bertajuk Attack on Titan dari jadwal penayangannya. Kabar tersebut disampaikan langsung oleh pihak penyelenggara setelah film tersebut muncul dalam black list Departemen Kebudayaan Pemerintah China.

Tadinya, film pertarungan antara monster versus umat manusia ini dijadwalkan akan diputar di Shanghai International Film Festival mulai Sabtu pekan ini sampai 21 Juni mendatang. Ju Li, ketua penyeleksi festival ini, mengutarakan kepada media scmp bahwa penayangan Attack on Titan telah dibatalkan. Sayangnya, Ju Li kurang jelas dalam mengungkapkan alasan pembatalannya. Meski jadwal pemutarannya sudah dicabut, namun Attack on Titan masih muncul di antara daftar 400 film yang bakal diputar di festival yang sudah menginjak usia ke-18.

Pelarangan tersebut berawal dari pengumuman yang dirilis oleh Departemen Kebudayaan sehari sebelum festival dimulai. Departemen Kebudayaan melampirkan surat pelarangan tayang atas 38 film yang menggambarkan "kekerasan, pornografi, kegiatan teroris" serta yang merugikan moralitas publik. Dan, film Attack on Titan menjadi salah satunya, pihak kementerian menempatkan film tersebut di urutan nomor 17 di situsnya.

Konten cerita Attack on Titan sendiri memang penuh dengan kekerasan. Film ini berkisah tentang dunia tempat manusia berlindung di balik tembok besar karena takut oleh serangan para raksasa yang mereka sebut Titan. Ukuran Titan bervariasi mulai dari yang setinggi tiga meter hingga belasan bahkan puluhan meter. Para Titan memburu manusia tak lain adalah untuk dijadikan makanan oleh mereka. Teror berlangsung hingga akhirnya manusia pun membentuk pasukan berkemampuan tinggi dengan alat-alat khusus untuk memusnahkan Titan.

Di China memang tidak memiliki sistem rating film, makanya otoritas budaya setempat bertanggung jawab menyensor film dan konten yang dianggap sensitif secara politis atau menyangkut pornografi. Seperti yang pernah terjadi pada tahun 2013, bioskop Shanghai menarik film Django Unchained besutan sutradara Quentin Tarantino dari peredaran secara misterius, namun kemudian ditayangkan kembali setelah adegan Jamie Foxx tanpa busana dipotong.

Film thriller mata-mata James Bond, Skyfall juga mengalami hal serupa. Pemerintah memotong adegan yang menunjukkan prostitusi di Macau, wilayah administratif khusus Cina dan dialog musuh Bond yang menyebutkan telah disiksa oleh agen keamanan China. Bagi para pelaku industri, sistem sensor menjadi salah satu alasan mengapa perfilman mereka jauh tertinggal dari negara kawasan Asia lainnya yang konten filmnya lebih kaya.

Penyelenggara festival juga melontarkan pernyataan kontroversial lainnya. Salah satu juru bicara penyelenggara festival menyarankan agar sineas Korea Selatan tidak perlu mengikuti festival ini karena kekhawatiran atas penyebaran sindrom pernafasan Timur Tengah, Mers. Sebagaimana yang telah diketahui, Korea Selatan saat ini sedang berjuang melawan wabah virus mematikan. Meski begitu, dari Korea Selatan tetap mengirimkan beberapa karyanya. Di antaranya ada The Shameless ( Seung ook Oh) dan Salut D'Amour (Kang Je-kyu).

Shanghai International Film Festival ini merupakan festival perfilman terbesar di Asia Timur. Festival ini sudah diadakan sejak tahun 1993, dan tahun ini menginjak usia ke-18. Pada tahun lalu, Shanghai International Film Festival menjadi sorotan dunia, sebanyak 13.857 jurnalis dari media ternama dari seluruh dunia melaporkan acara festival ini. Sebut saja The Wall Street Journal, The New York Times, The Los Angeles Times, The Mirror, The Daily Mail, Reuters, Associated Press, The Hollywood Reporter, Variety,Sina, Sohu, dan masih banyak lagi.

 

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News