1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Pendekar Tongkat Emas, Film Silat Klasik Berbujet Rp 20 Miliar

Angga Rulianto | 24 Maret 2014 12:00
Film Indonesia tentang silat klasik, Pendekar Tongkat Emas, berbiaya produksi Rp 20 miliar dan memakai koreografer laga terkenal dari Hong Kong.

Film Indonesia yang mengangkat kisah silat, terutama yang klasik, belum hadir lagi di layar lebar sejak industri film nasional bangkit lagi pada tahun 1998. Film-film silat Indonesia seperti itu seolah ikut mati suri. Padahal pada era 1970-an, film silat klasik cukup banyak diproduksi. Sebut saja, Si Buta dari Gua Hantu, Si Pitung, Si Ronda Macan Betawi, Si Bongkok, Pendekar Bambu Kuning, dan Pendekar Bukit Tengkorak.

Tahun ini, Mira Lesmana, produser film laris Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, akan membangkitkannya kembali lewat film Pendekar Tongkat Emas. Ifa Isfansyah, yang sebelumnya menggarap film Garuda Di Dadaku dan Sang Penari, bakal duduk di kursi sutradara. Adapun Riri Riza menjadi co-producer dalam film yang akan syuting awal April nanti di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Syuting dijadwalkan akan memakan waktu tiga bulan.

"Setelah Gie, yang juga merupakan film Miles paling lama syutingnya, hampir tiga bulan, kini Pendekar Tongkat Emas juga akan syuting selama itu. Bujetnya sampai Rp 20 miliar. Itu baru biaya produksi, belum promosi," ujar Mira Lesmana saat acara syukuran produksi film Pendekar Tongkat Emas di Bintaro Jaya Xchange Mall, Tangerang Selatan, pada 20 Maret lalu.

Eva Celia berperan sebagai Dara. Tara Basro menjadi Gerhana.

Dengan biaya produksi sebesar itu, Pendekar Tongkat Emas otomatis menjadi film termahal Miles Films. Sebagai perbandingan, pembuatan film Gie sendiri menelan biaya sampai sekitar Rp 10 miliar. Ernest Prakasa, komedian yang menjadi pembawa acara syukuran pada Kamis minggu lalu, bertanya, apakah Mira Lesmana yakin Pendekar Tongkat Emas bisa laku?

"Bismillah," ucap Mira, tersenyum. Dan, karena biaya yang besar itu, Miles Films menggandeng Kompas Gramedia Studio untuk memproduksi film Pendekar Tongkat Emas. Lagi pula, Kompas Gramedia Studio juga ingin mengangkat kembali film silat klasik. "Kami juga didukung oleh beberapa co-executive producer lain yang membantu pendanaan film ini,” ungkap Mira.

Selain nama besar Mira Lesmana, Riri Riza dan Ifa Isfansyah, deretan nama aktor-aktris yang membintangi Pendekar Tongkat Emas juga berpotensi kuat untuk mendatangkan para penonton ke bioskop ketika film ini tayang pada Desember 2014. Mereka punya popularitas tinggi. Seperti Reza Rahadian, Nicholas Saputra, Eva Celia, Tara Basro, Christine Hakim, Slamet Rahardjo Djarot, Prisia Nasution, sampai Darius Sinathrya.

Syukuran produksi film Pendekar Tongkat Emas.

"Film ini membutuhkan proses yang panjang. Para aktor yang akan berperan di dalamnya sudah berlatih selama enam bulan untuk dapat menguasai berbagai teknik bela diri klasik, termasuk basic wushu, karena tongkat menjadi senjata utama," ujar Riri Riza. Sutradara Gie dan Sokola Rimba ini juga mengakui bahwa pembuatan film Pendekar Tongkat Emas mempunyai tingkat kesulitan teknis yang tinggi.

Karena kerumitan itu pula, Mira sengaja memendam keinginannya untuk membuat film silat klasik sejak delapan tahun lalu. Semuanya bermula dari kecintaan Mira sedari kecil terhadap komik-komik silat. Ia lalu tertantang untuk membuat film dengan tema silat klasik. Maka sejak tahun 2006, Mira rajin mengumpulkan komik-komik silat bekas favoritnya untuk diadaptasi jadi film layar lebar.

Memang, tahun 1970-an bukan hanya era di mana film-film silat menjamur. Kala itu, komik-komik yang bercerita tentang dunia silat juga bermunculan dan dibaca banyak orang. Antara lain, “Si Buta dari Goa Hantu” karya Ganes TH, “Djaka Sembung” karya Djair, “Panji Tengkorak” karya Hans Jaladara, “Pendekar Seruling Gembala” karya Henky, “Gina” karya Gerdi W.K., dan “Gundala Putra Petir” karya Harya Suryaminta.

Nicholas Saputra menjadi Elang.

 

--Bagaimana cerita Pendekar Tongkat Emas?--

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News