1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Penjahat 'Naura dan Genk Juara' VS Tokoh Film Pelaku Korupsi

Tim Editor | 24 November 2017 16:45
Tidak ada penggambaran secara spesifik, atau kesan yang menegaskan bahwa muslim itu jahat dalam adegan-adegan di film ini.

Muvila.com – Kasus kontroversi film Naura dan Genk Juara telah menggiring setidaknya 50 ribu orang untuk ikut menandatangani petisi yang berisi permohonan untuk menghentikan tayangnya film tersebut di bioskop. Diindikasi mengandung muatan pelecehan agama, film arahan Eugene Panji ini memang sedang marak dibicarakan beberapa waktu belakangan.

Ketua LSF, Ahmad Yani Basuki, dalam pernyataan resminya mengatakan bahwa film yang dibintangi anak dari penyanyi Nola yang tergabung dalam grup vokal B3 ini murni merupakan film musikal. Kalau kamu masih ingat film Petualangan Sherina, kira-kira seperti itulah konsep penyajiannya. Adegan, percakapan, lagu, dan tarian dibaur menjadi satu di dalamnya.

Film ini berkisah tentang rombongan anak sekolah yang sedang menjalani kegiatan di sebuah hutan konservasi. Di tengah kegiatan mereka itu, ada tiga penjahat yang kedapatan mencuri hewan dari kandang konservasi. Pencurian tersebut pada akhirnya diketahui didalangi si petugas penjaga konservasi itu sendiri.

Tiga orang penjahatnya bercambang, dengan perangai agak kasar, layaknya tampilan penjahat dalam bayangan orang-orang pada umumnya. Satu di antaranya memakai celana pendek, yang oleh beberapa orang dikatakan bahwa itu adalah celana cingkrang. "Jauhlah dari gambaran saudara-saudara kita yang sering dipandang sebagai radikal atau teroris, karena jenggot dan model celananya," ungkap Ahmad Yani.

Naura dan Genk Juara ini mengambil setting di Indonesia, yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Maka logikanya, bisa saja penjahatnya diceritakan beragama Islam. Sama wajarnya jika dalam negara yang mayoritas penduduknya non muslim, maka penjahat non muslim, seperti dalam film Home Alone misalnya.

Lanjut ke cerita dari film tersebut. Ketika para penjahat sedang berada di hutan pada tengah malam, mereka ketakutan karena mengira ada hantu. Salah satu tokoh penjahat itu lalu membaca doa, dan karena dia muslim, dia bacanya doa dalam agama Islam. Sayangnya, dia malah salah 'comot', membacakan doa mau makan. Dia lalu ditegur temannya, diingatkan kalau doanya salah.

Tidak ada penggambaran secara spesifik, atau kesan yang menegaskan bahwa muslim itu jahat dalam adegan-adegan film Naura dan Genk Juara ini. "Tidak bedanya jika ada film tentang kasus korupsi, lalu koruptornya di dalam bui berdoa atau salat. Itu sama sekali tak berarti merepresentasikan umat Islam itu jahat. Bagi LSF, tidak terlihat adanya bagian yang secara jelas mendiskreditkan Islam," paparnya.

Jika film ini dihubung-hubungkan dengan penistaan agama, rasanya terlalu jauh berspekulasi. Penonton tahu kalau penjahatnya muslim hanya karena dia baca doa. Kemudian, ketika akhirnya si penjahat terkepung, salah satunya juga membaca istighfar. "Tetapi sekali lagi, bagi LSF, itu tdak serta merta menggambarkan pelecehan dan penistaan terhadap Islam," imbuh Ahmad Yani.

Menurut bapak yang satu ini, Untuk memahami film Naura dan Genk Juara, memang kamu perlu menonton langsung filmnya. Akan lebih baik lagi kalau kamu juga pernah menonton film Petualangan Sherina, Home Alone, atau Jenderal Kancil yang pernah diperankan Ahmad Albar pada masa kecilnya dulu. Gimana? Kamu yang kontra, apakah sudah mulai bisa jernih berpikir?

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News