1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Adhitya Mulya: Film Sabtu Bersama Bapak Lebih Kaya dari Novelnya

Reino Ezra | 9 Juni 2016 14:00
Berikut petikan wawancara dengan Adhitya Mulya, penulis novel dan skenario film Sabtu Bersama Bapak.

Muvila.com – Salah satu film Indonesia yang akan meramaikan libur Lebaran pada awal Juli mendatang adalah Sabtu Bersama Bapak yang dirilis Max Pictures—label di bawah Maxima Pictures. Film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Adhitya Mulya, yang diterbitkan pertama kali tahun 2014. Dalam film ini, Adhitya pun bertugas untuk mengadaptasi novelnya sendiri ke dalam bentuk skenario bersama Monty Tiwa, sutradara film ini.

Sabtu Bersama Bapak kisahkan cara seorang ayah untuk tetap bisa menemani kedua putranya tumbuh dewasa, sekalipun ia tak lagi ada bersama-sama dengan mereka. Film ini dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Arifin Putra, Acha Septriasa, Deva Mahenra, Ira Wibowo, dan Sheila Dara Aisha, dan akan tayang di bioskop mulai 5 Juli mendatang.

Di sela-sela peluncuran trailer dan soundtrack film Sabtu Bersama Bapak di Jakarta, 7 Juni lalu, Muvila mewawancarai Adhitya. Pria yang pernah menggarap skenario film Jomblo (2006) dan Test Pack (2012) ini lalu menuturkan perihal tantangannya dalam menulis skenario film, perbedaannya dengan menulis novel, sampai ke penentuan pemain. 

Bagaimana awalnya novel Sabtu Bersama Bapak buatan mas Adhitya ini sampai bisa diadaptasi ke layar lebar?

Produser memang meng-approach. Kebetulan waktu itu di-approach oleh Maxima, dengan terms and condition-nya cocok, ya kita jalan, sesimpel itu sih sebenarnya. Saya nggak terlalu banyak mikir atau pertimbangan.

Kalau dilihat di Twitter-nya mas Adhitya cukup rajin memposting soal proses produksi Sabtu Bersama Bapak. Kalau boleh tahu selain sebagai pemilik cerita aslinya, apa saja peran mas Adhitya di film ini?

Di film ini saya melakukan dua hal sebenarnya. Pertama saya menulis skripnya. Masalah cast saya benar-benar serahkan sama pihak Max Pictures, saya cuma minta satu waktu itu, yaitu ajak Acha (Septriasa), sisanya terserah. Pada kenyataannya, pihak Max memberikan talent yang sekarang ini ada, yang benar-benar di atas ekspektasi saya. Yang kedua, saya mengawal proses syutingnya, saya cuti kerja lama untuk mengawal syuting ini, dan saya melihat bahwa mereka sangat memberikan hatinya untuk film ini. Dan, itu yang bikin saya...apa ya, terharulah istilahnya. Mereka benar-benar pegang skripnya, apalagi mbak Ira (Wibowo), Abi (Abimana Aryasastya), mereka benar-benar dalam banget, semuanya sih.

Kenapa sangat ingin mengajak Acha?

Waktu itu saya merasa pasnya dia, dan memang benar. Bahkan dari mulai nulis novelnya pun, karakter yang sedang saya ceritakan itu saya mikirnya ini bagusnya dia, seperti itu sih. Dan, memang dia bagus.

Menulis skenario adaptasi dari novel sendiri, ada perbedaan terbesar yang dirasakan?

Film 'kan ada kepentingan durasi, jadi kita nggak bisa panjang-panjang. Jadi, ada beberapa adegan yang terpaksa saya nggak filmkan, pihak produser dan sutradara juga setuju demi durasi. Tapi, saya yakin nggak mengubah esensi ceritanya.

Berarti mas Adhitya cukup tega menghilangkan beberapa bagian dari bukunya?

Oh, tega. Karena, yang banyak penulis nggak sadar, buku dan skrip itu dua medium yang berbeda, dengan keterbatasan yang berbeda, ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Misalnya buku itu nggak terbatas mau berapa lama atau seberapa panjang, sedangkan film itu terbatas banget. Saya dari awal juga mikir, nggak boleh itu skrip sampai 120 halaman, karena filmnya akan jadi panjang banget—kalau nggak salah satu halaman itu 'kan untuk untuk satu setengah menit. 

Apakah menulis skenario film adaptasi dari novel sendiri prosesnya jadi lebih mudah

Tantangannya beda, tapi saya bisa bilang lebih susah. Mungkin karena sekalipun saya udah nulis buku belasan tahun, nulis skrip itu baru beberapa film aja 'kan, jadi bisa dibilang lebih susah karena masih banyak belajar. Tetapi, senang sih, seru.

Setelah melihat hasilnya, bagaimana komentar mas Adhitya tentang kinerja Monty Tiwa?

Wah, Monty itu kasih hatinya ya. Seperti saya bilang tadi, cast-nya all out, sutradara dan krunya juga all out, benar-benar mereka kasih yang terbaik yang mereka bisa. Dan, hasilnya itu kalau saya bilang sih jauh di atas ekspektasi saya. Saya nggak mau terdengar sombong atau apa, tetapi singkatnya saya bisa bilang ini lebih baik dari bukunya. Karena bukunya kan hanya karangan Adhitya Mulya, tetapi filmnya itu udah karya Adhitya, Monty, Acha, Arifin, Abi, dan semuanya. Ini my sincere opinion ya, dan memang ceritanya jadi lebih kaya. Ini adalah cerita yang sama dengan novelnya, tapi dengan delivery yang lebih kaya aja, karena ada banyak orang yang memberikan yang terbaik di sini.

Mungkin pernah menerima tanggapan negatif atau protes dari penggemar novel Sabtu Bersama Bapak terhadap proyek adaptasi filmnya, bagaimana komentar mas Adhitya

Itu wajar sih, karena buku itu kan theatre of mind. Ketika kita jual seribu buku, berarti ada seribu interpretasi. Itu wajar. Saya tidak terpukul dengan itu, saya tidak marah juga dengan itu, itu 'kan hak mereka. Tetapi, ya sudah nggak apa-apa, saya hargai saja.

Foto: Ivan Marlianto

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News