1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Penulis ILY from 38.000 ft Uji Tingkat 'Baper' Pada Diri Sendiri

Reino Ezra | 23 Juni 2016 19:00
Tisa TS paparkan proses kreatifnya dalam membuat skenario film roman remaja ILY from 38.000 ft.

Muvila.com – Sebagai seorang penulis skenario, nama Tisa TS terbilang akrab terutama bagi pemirsa TV. Tisa adalah salah satu sosok di balik kesuksesan beberapa sinetron, sebut saja Diam-diam Suka (2013) dan Love in Paris (2012), serta beberapa judul FTV. Sukses di layar kaca membuat Tisa kemudian dirangkul oleh Screenplay Films untuk menulis skenario film-film layar lebar Magic Hour (2015), London Love Story (2016), dan yang akan rilis 5 Juli mendatang, ILY from 38.000 ft (I Love You from 38.000 Feet), yang dibintangi Michelle Ziudith dan Rizky Nazar.

Baik Magic Hour maupun London Love Story terbukti menuai sukses dengan angka penjualan tiket yang tinggi, serta memantapkan Tisa sebagai salah satu penulis yang sukses dalam membuat skenario cerita cinta, khususnya yang menjangkau kalangan remaja. Hal yang sama juga masih menjadi panduannya dalam menulis ILY from 38.000 ft. Namun, ia mengakui bahwa proses kreatif serta makna yang hendak diusung film ini berbeda dari dua film sebelumnya.

Pada 22 Juni lalu, Muvila sempat melakukan wawancara singkat dengan Tisa usai special screening film garapan Asep Kusdinar tersebut di Jakarta. Tisa pun memaparkan proses kreatif cerita dan skenario ILY from 38.000 ft, hubungannya dengan penggemar, serta pentingnya kata kunci 'baper'—singkatan dari 'terbawa perasaan'—dalam karya-karyanya. Berikut hasil wawancaranya.

Judul ILY from 38.000 ft 'kan diambil dari pesan yang diunggah almarhumah Kahirunnisa (salah satu pramugarai korban kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501 tahun 2014, red.). Bagaimana akhirnya bisa berkembang jadi cerita film ini?

"Sebenarnya dari produser kita, Pak Sukdev (Singh, red), dia tertarik waktu melihat postingan itu, kayaknya menyentuh banget. Terus bagaimana caranya kita bikin suatu cerita, tapi yang—Khairunnisa 'kan ada keluarga juga, jangan sampai keingat sama peristiwa itu. Ceritanya benar-benar lepas dari itu dan beda. Tetapi memang bagian 'I love you from 38.000 feet' itu yang kita ambil, yang kayaknya memang so sweet, dan bagaimana kita menghadapi sesuatu yang kita bahkan nggak ada firasat sebelumnya, jadi itu message yang ingin disampaikan.

"Pak Sukdev itu memang banyak banget ide-ide yang luar biasa, dan satu yang jadi ciri khas kami, bagaimana caranya love story ini punya twist. Jadi nggak sekadar love story, cinta-cintaan yang bikin baper, tetapi ada sesuatu yang bikin penasaran, 'oh ternyata ini, ternyata itu.' Dari situ kita brainstorming, antara aku, Pak Sukdev, dan Kang Asep, dan setiap kali meeting ketemu hal-hal baru lagi yang bisa kita gali, sampai lahirlah karakter-karakter ini dengan ciri khas sendiri-sendiri. Prosesnya sih lumayan ya, dengan penggodokan-penggodokan ide sendiri."

Berapa lama dibutuhkan sampai jadi skenario final?

"Dari awal kita ngobrol ide ini sampai final draft itu sekitar tiga bulan."

Ini film ketiga yang skenarionya ditulis Tisa dengan bintang utama Michelle Ziudith. Apakah dalam proses penulisan ILY from 38.000 ft Tisa sudah membayangkan karakter Aletta di film ini dimainkan Michelle?

"Jadi begini, kita sudah ciptakan karakter-karakternya, tetapi begitu karakter masuk di skenario, itu soul-nya 'kan harus lebih hidup lagi. Kebetulan waktu itu aku udah tahu yang main siapa aja, Arga itu akan dimainkan Rizky, Aletta itu akan dimainkan Michelle. Nah, itu sangat ngebantu banget saat aku tulis skenarionya, karena aku—istilah kasarnya—udah ngerti bangetlah, Michelle itu kemampuannya sebesar apa, dia jago banget kalau dikasih adegan-adegan apa, misalnya. Makanya pada saat aku garap Michelle dengan karakter-karakter baru, ada satu ciri khas, misalnya adegan hujan. Karena Michelle-nya sendiri kalau kena hujan dia kayak all out banget dengan dialog-dialog yang aku bikin, dia sendiri mengakui."

Dilihat dari media sosial—juga hasil dari film-filmnya, Tisa termasuk penulis skenario yang punya banyak pengikut. Apakah Tisa pernah mendapatkan saran dari para penggemar yang dipakai dalam karya Tisa?

"Banyak sih. Karena kebetulan aku cukup aktif di social media, terutama belakangan di Instagram, karena di sana aku suka bikin quotes yang aku edit sendiri. Kalau Twitter mungkin untuk menyapa, me-maintain hubungan aja. Dan, itu jadinya nggak cuma kepada fans yang ada di Indonesia, bahkan dari luar juga ada yang korespondensi sama aku. Jadi, ternyata banyak banget dari sisi penulisan yang bisa memperkaya kita lagi. Karena aku melihatnya, pada saat kita mencapai titik di atas, ibaratnya kayak naik tangga, itu pasti akan dapat ujian dan pembelajaran lebih banyak lagi.

"Aku merasanya semakin ke sini justru semakin kayak haus untuk belajar, apa lagi nih kira-kira masukan-masukannya. Puji Tuhan selama ini sih, karena hubungan aku dengan mereka ini baik, jadi saya suka minta masukan dari mereka. Misalnya ada yang bilang, 'Udah "baper" kok, mbak, tapi coba bikin yang begini.' Oke, berarti nanti tungguin ya buat yang selanjutnya. Itu buat semangat aku juga sih."

Apa yang jadi kiat andalan Tisa saat menuliskan cerita dan skenario roman?

"Kalau buat aku, andalanku adalah jujur sama hati sendiri, sih. Karena aku lihatnya begini, saat aku nulis sesuatu, aku yang nulis itu jatuh cinta beneran nggak? Aku harus masuk ke situ. Kalau aku nggak jatuh cinta beneran, kalau aku nggak bikin dialog yang sampai bikin aku nangis, berarti aku belum sukses, itu pasti akan aku delete dari komputerku, ibaratnya seperti itu. Tetapi, misalnya aku bikin quotes atau apa yang, 'Aduh, gue jadi "baper" sendiri nih,' nah ini kayaknya udah bisa untuk di-deliver. Jadi aku butuh jujur sama diri aku sendiri aja. Orang jatuh cinta itu sedalam apa sih, bisa digali sampai mana? Orang patah hati itu bisa sesakit apa sih?

"Mungkin istilahnya aku bereksperimen dengan diri aku sendiri, dan itu caranya banyak. Misalnya dengerin lagu, nonton film-film lain, karena kalau misalnya kita peka—misalnya kemarin kita nonton action Criminal, atau Finding Dory, itu banyak banget yang bisa kita dapetin dari situ. Even The Conjuring 2, aku nonton itu 'baper' lho dengan si pasangan Warren itu. Banyak hal, yang penting kita harus open dan jujur sama hati sendiri. Mudah-mudahan dengan begitu, next movie bisa dapat sesuatu yang baru lagi, yang nggak kalah 'baper' lagi."

Foto Tisa TS: Ivan Marlianto/dok. Muvila

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News