1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Salman Aristo: Netflix Masuk, Standar Film Jadi Naik

Lusi Triana | 9 Februari 2016 18:00
Menurut Salman, bila layanan legal seperti Netflix dilarang pemerintah, masyarakat bisa kembali beralih ke situs ilegal.

Muvila.com – Situs layanan video streaming, Netflix, resmi hadir di Indonesia pada 7 Januari 2016. Namun, masuknya Netflix ke Indonesia menimbulkan banyak pendapat pro dan kontra. Setelah Lembaga Sensor Film (LSF) mempersoalkan bahwa konten film di Netflix harus melalui proses sensor terlebih dahulu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga mempertanyakan soal Netflix yang tidak memiliki kantor di Indonesia.

Di sisi lain, pihak investor dari industri hiburan malah mendukung adanya Netflix. Dengan adaya situs layanan video streaming ini, kualitas tayangan-tayangan film dan televisi di Indonesia diyakini mereka juga akan meningkat.

“Ketika gue banyak ketemu investor, semuanya ngomong, ‘Siap-siap ya bersaing untuk ngomongin kualitas yang bagus ketika Netflix masuk’. Itu tanggapan dunia investasi ketika Netflix masuk. Besoknya Telkom nge-block, sebel enggak? Dunia investasinya berharap ketika Netflix masuk, 'Lu udah nggak bisa lagi bikin yang jelek man'. Kan nyebelin buat kreator," ujar Salman Aristo usai pemutaran film pendek Arah Kisah Kita di SCBD, Jakarta pada 3 Februari 2016.

Sutradara dan produser Arah Kisah Kita ini melanjutkan, "Ketika kita punya kesempatan didorong untuk kualitas. Yang untung kan publik dapat sesuatu yang lebih baik. Yang dorong pemodal. Sejak kapan pemodal ngomongin kualitas, biasanya kan pemodal ngomongin ROI (Return On Investment). Ketika Netflix masuk, standar nonton naik. Kalau lu bikin jelek, nggak bagus barang lu, nggak laku. Manfaatnya Netflix itu lebih banyak daripada mudaratnya.

Memang, selain dipersoalkan oleh LSF dan Kominfo, Telkom juga telah memblokir situs layanan video streaming tersebut karena dinilai belum memenuhi regulasi di Indonesia, seperti memuat konten berbau pornografi. Namun di lain sisi, Telkom juga tak menutup kemungkinan untuk tak lagi memblokir situs tersebut dengan syarat telah bekerja sama.

“Jadi alasan ngelarangnya apa? Ngelarang bawa-bawa pornografi kayak omong kosong. Kan sekarang keluar statement kayak gitu. Kalau masuknya lewat IndieHome (layanan internet, saluran TV kabel milik Telkom, red) mau,” ucap Salman.

“Akhirnya terbaca seperti itu (terkesan ekonomi). Katanya mau bawa HOOQ (situs layanan video streaming Singapura). Beda argumennya HOOQ sama Netflix apa. Maksud gue yang clear aja, kalau mau bisnis ya bisnis. Jangan bawa moralitas kita. Moralitas kok dibawa sama Telkom kan nggak lucu, nggak pada tempatnya. Ini jadinya seperti motif ekonomi,” beber Salman.

Menurut Salman, Netflix merupakan bentuk digital platform yang akan menjadi masa depan teknologi perfilman. Untuk itu, sebagai pembuat ia berusaha untuk beradaptasi dengan membuat webseries berjudul Bujangan Hari Ini yang tayang setiap Kamis.

Ia juga meyakini bahwa dengan masuknya Netflix ke Indonesia tidak akan mematikan industri bioskop di Indonesia. Justru jika layanan legal seperti ini dilarang oleh pemerintah, orang-orang akan kembali beralih pada layanan yang ilegal.

“Pengalaman menontonnya akan tetap berbeda. Bioskop itu tempat gathering. Nggak beda sama balai, atau alun-alun. Nggak tahu kalau nanti bisa kumpul secara virtual. Fungsi itu masih belum tergantikan. Kalau nonton di gadget itu sifatnya personal, kalau bioskop itu komunal. Tapi bisa aja kalau nantinya bisa kumpul nggak secara fisik, lewat virtual,” tutupnya.

Foto: Ivan Marlianto

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News