1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Jejak Gambar Idoep di Batavia dan Donggala

Muhammad Rizal Fikri | 30 Maret 2016 19:00
Copyright: kitlv.nl
Di Donggala, ada Jalan Bioskop yang tadinya menjadi tempat berdirinya Bioskop Megaria.

Muvila.com – Perkembangan bioskop Indonesia tidak terjadi dalam waktu singkat. Cikal bakalnya sudah ada sejak lebih dari 100 tahun lalu. Kondisi Indonesia yang kala itu masih bernama Hindia Belanda kemudian menyebabkan perkembangan awal bioskop di Indonesia tak lepas dari kontribusi orang-orang Belanda.

Sekitar empat tahun setelah dibangunnya bioskop permanen pertama kali di Amerika Serikat, bioskop pun mulai muncul di Indonesia, tepatnya pada 5 Desember 1900. Namun, saat itu bioskop di Indonesia belum permanen. Pemutaran perdananya dilakukan di rumah seorang pengusaha Belanda di daerah Kebon Jahe, Tanah Abang, Batavia.

Ketika itu, film masih disebut sebagai "Gambar Idoep", yang berarti citra bergerak, dan tentu saja filmnya masih berupa film bisu. Selain diumumkan via surat kabar, jadwal pemutaran film juga disebarkan lewat poster filmnya dengan menggunakan kereta kuda.

“Besok hari Rebo 5 Desember Pertoenjoekan Besar Yang Pertama di dalam satoe roemah di Tanah Abang, Kebondjae (menage) moelai poekoel Toedjoe malem. Harga tempat klas satoe f2, klas doewa f1, klas tiga f0,50,” tulis sebuah iklan dalam surat kabar Bintang Betawi yang terbit 4 Desember 1900.

Film pertama yang diputar adalah film dokumenter tentang perjalanan Ratu Olanda dan Raja Hertog Hendrik di kota Den Haag, Belanda. Selain untuk orang-orang dewasa, bioskop ini juga memutarkan film untuk anak-anak setiap seminggu sekali dengan didampingi orang tua.

Tiga tahun setelah pemutaran film pertama itu, tempat pemutaran yang sebelumnya rumah seorang pengusaha diubah menjadi bioskop bernama The Royal Bioscoope, tepatnya pada 28 Maret 1903. Setelah itu, muncul bioskop baru milik pengusaha Belanda lainnya, antara lain Elite, Deca Park, Capitol, dan Rialto.

Pemerintah kolonial Belanda saat itu memang masih berfokus untuk memutarkan film dokumenter. Akan tetapi, film dokumenter tersebut juga harus bersaing dengan ketar dengan arus film dengan cerita yang diimpor dari Amerika Serikat. Pada masa-masa inilah, setidaknya satu bioskop bisa memutar dua film setiap malamnya.

Selain memutarkan film-film impor dan film produksi Belanda, pada tahun 1926 akhirnya dibuat film Loetoeng Kasaroeng yang diproduksi di Indonesia. Meskipun masih disutradarai dan diproduksi oleh orang Belanda, tapi film ini sudah memakai aktor-aktris dalam negeri. Bahkan, penyunting dan sinematografer film ini adalah R.A.A Wiranatakusumah V, yang kemudian menjadi Menteri Dalam Negeri pertama di Indonesia.

BIOSKOP DI LUAR JAWA

Perkembangan bioskop di Hindia Belanda tidak hanya terjadi di Jawa. Melansir Antara Sulteng yang mengutip buku karya Misbach Yusa Biran berjudul Sejarah Film 1900 – 1950: Bikin Film di Jawa, ada catatan penting mengenai keberadaan bioskop di Indonesia. 

Dalam daftar bioskop Hindia Belanda--yang disusun oleh Gabungan Importir Film, Departemen Film Perusahaan Dagang Kian Gwan dan Tuan Weskin--yang dirilis majalah film Revue nomor 22 pada Maret 1936, saat itu tercatat ada 227 bioskop di Hindia Belanda. Salah satunya adalah Apollo Theater, sebuah bioskop di kota dan pelabuhan Donggala, Sulawesi Tengah.

Perkembangan bioskop di Donggala memiliki sejarah unik, karena berhubungan dengan ramainya aktivitas perdagangan di pelabuhan kota Donggala. Di antara tahun 1920-1939, pelabuhan di kota Donggala menjadi pusat perdagangan dari berbagai penjuru dunia, karena ketika itu hasil bumi Hindia Belanda mampu menyuplai 29 persen dari total kebutuhan kopra dunia.

Dengan banyaknya orang-orang dari negara lain atau daerah lain datang dan pergi melalui pelabuhan kota Donggala, maka terjadi pula perbaikan ekonomi warganya. Dari situ, muncul bioskop sebagai salah satu hiburan dan bentuk baru interaksi budaya bagi warga lokal dengan para pendatang yang sedang berlabuh di pelabuhan kota Donggala.

Dalam buku Donggala Donggala'ta Dalam Pergulatan Jaman karya Jamrin Abubakar terungkap bahwa hingga pertengahan dekade 1990-an, masih ada setidaknya tiga gedung bioskop yang beroperasi di kota Donggala.

Ketiga bioskop tersebut antara lain, bioskop Megaria, bioskop Muara, dan bioskop Gelora. Bioskop Megaria yang mulai beroperasi tahun 1950 menjadi penanda kultural bagi warganya, karena jalan di depan bioskop itu diberi nama Jalan Bioskop yang masih digunakan hingga sekarang.

 

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News