1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Tanah Mama dan Tanggung Jawab Para Mama Papua

Lusi Triana | 29 Desember 2014 10:00
Para perempuan di Papua punya tanggung jawab yang sangat besar dalam menopang kehidupan keluarga mereka.

Muvila.com – Papua terkenal dengan tanah subur dan sumber mineral melimpah. Akan tetapi, Papua nyatanya belum banyak tersentuh oleh program pembangunan pemerintah. Laju pembangunan di sana masih jauh di belakang pembangunan di kota besar lainnya Indonesia. Masyarakat Papua pun masih banyak yang di bawah garis kemiskinan, belum lagi ditambah problem minimnya pelayanan kesehatan masyarakat dan pendidikan.

Itulah yang tergambar jelas dalam film dokumenter terbaru hasil Project Change, Tanah Mama. Jika kebanyakan film dokumenter tentang Papua berbicara seputar konflik kekerasan yang menyebabkan kematian warga asli Papua, Tanah Mama menyajikan realita lain yang tak kalah miris. Karena lama tinggal di Wamena dan melihat berbagai aktivitas para ibu di daerah tersebut, sutradara Asrida Elisabeth terinspirasi untuk memperlihatkannya dalam film dokumenter.

Tanah Mama memperlihatkan kehidupan seorang perempuan, Mama Halosina, dalam menjalani kehidupannya yang keras. Ia harus menghidupi empat anaknya, sedangkan sang suami telah menikah lagi. Masalahnya bertambah banyak saat ia harus berusaha membayar denda akibat peristiwa yang ia alami. Dengan hanya mengandalkan ubi dan sayur, ia berusaha membayar denda dan menghidupi kehidupan buah hatinya.

Menurut Asrida, para perempuan di Papua mempunyai tanggung jawab yang amat besar dalam menopang kehidupan keluarga. “Saya melihat bahwa seluruh tanggung jawab dalam keluarga itu ada pada perempuan. Melalui film ini saya ingin bercerita soal bagaimana kehidupan perempuan dalam keluarga, dalam problemnya terhadap suami, terhadap anak-anak,” ungkap Asrida setelah pemutaran film Tanah Mama pada Senin pekan lalu di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.

Bukan cuma mengangkat peran perempuan dalam keluarga, film Tanah Mama ini juga menunjukkan tingkat dan kondisi kesehatan penduduk Wamena. Asrida juga memperlihatkan kondisi ekonomi dan peran perempuan saat berada di ruang yang lebih besar atau dalam masyarakat.

Akan tetapi, awalnya cerita Tanah Mama bukan bertutur tentang peran dan tanggung jawab para ibu di Papua. Asrida menuturkan, proses pembuatan film dokumenternya ini mengalami perubahan yang besar dalam jalan cerita. Mulanya, Asrida hendak mengangkat soal kondisi kesehatan serta profesi Mama Halosina, tokoh utama dalam film ini. Namun, saat proses mengamati kehidupan tokoh utama film ini, muncul perubahan ide cerita.

“Awalnya dulu saya mau membuat film Mama adalah Tanah, cuma kemudian karena risetnya agak panjang bersama Project Change padahal saya riset sendiri sebelum itu. Selama proses riset itu saat saya kembali berkunjung ke kampung suami dari tokoh utama film ini, Mama Halosina, ternyata dia (Mama Halosina) sudah pindah ke kampung yang lain,” paparnya.

Sempat kebingungan karena kondisi tersebut, Asrida malah mendapati konflik baru yang dinilai lebih dramatis, menarik dan penting. Gara-gara itu pula proses produksi film dokumenter ini dipercepat. “Ceritanya berubah karena Mama pindah ke kampung lain karena mencuri dan kena denda di kampung,” ujar Asrida.

Nia Dinata, produser film dokumenter Tanah Mama, mengaku tersentuh dengan ide awal cerita yang diajukan Asrida. Menurut Nia, para mama Papua merupakan sosok yang tegar. Mama Halosina merupakan salah satu di antara sekian banyak perempuan Papua yang tegar dalam menjalani kehidupan yang keras. Namun, saat terjadi pencurian yang dilakukan Mama Halosina, Nia melihatnya sebagai titik yang membuat proses syuting harus segera dieksekusi.

“Karena this can be a turning point. Karena ini adalah cerita yang tidak disangka-sangka. Namanya juga dokumenter, perkembangan kehidupan protaginis yang kita pilih kan bukan kita yang kontrol,” tambahnya.

Tanah Mama merupakan film dokumenter hasil dari Project Change ketiga. Sejak tahun 2008, Project Change telah menghasilkan beberapa film dokumenter. Film dokumenter berdurasi sekitar 60 menitan ini dijadwalkan tayang di bioskop-bioskop Jakarta, Bandung dan Yogyakarta mulai 8 Januari 2015. Ini trailer-nya. 

 

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News