1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Tanta Ginting Sempat Sebut Piala Citra Saat Syuting Film 3

Reino Ezra | 21 November 2015 09:00
Ucapan canda aktor ini ternyata jadi kenyataan dengan masuk nominasi FFI 2015.

Muvila.com – Tanta Ginting mengaku kaget saat mengetahui ia jadi salah satu nomine Pemeran Pendukung Pria Terbaik lewat film 3 (Tiga) di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2015. Alasannya bukan hanya ia disandingkan dengan nama-nama besar, seperti Slamet Rahardjo Djarot (Filosofi Kopi) dan Mathias Muchus (Toba Dreams). Namun, lebih mengejutkan lagi karena gurauan antara Tanta dan sang sutradara, Anggy Umbara, saat melakukan syuting film 3 dulu menjadi kenyataan saat ini, yaitu Tanta akan rebut Piala Citra.

"Sebenarnya waktu itu setelah kita take adegan gue, gue bilang sama Anggy, 'Citra nih, Gy,'" kenang Tanta sembari tertawa. "Itu bercandaan gue sama Anggy pas lagi syuting, ternyata kepilih beneran. See, perkataan adalah doa," lanjutnya, saat diwawancara di kantor redaksi Muvila di Jakarta pada 18 November lalu.

Aktor ini memang terhitung baru aktif di film selama dua tahun, dimulai dari menjadi extras di The Raid 2: Berandal, serta mendapat peran Sutan Sjahrir di film Soekarno. Lewat perannya di Soekarno, Tanta sempat diganjar penghargaan dari Festival Film Bandung 2014 sebagai Pemeran Pendukung Pria Terpuji. Kali ini, ia masuk lagi dalam bursa penghargaan nasional di FFI 2015 sebagai salah satu unggulan untuk meraih Piala Citra, yang baru akan diungkap pemenangnya pada 23 November mendatang di International Convention Exhibition (ICE), Tangerang Selatan, Banten.

"Gue nggak berharap apa-apa sih. Kepilih di Piala Citra aja gue kaget banget. Ini penghargaan tertinggi untuk insan perfilman, dengan sejarahnya yang dari tahun 1950-an. Untuk melihat nama gue di sana, it's an honor, dan berkat banget. Ada nama gue di situ aja udah menang sih, untuk kepilih itu udah lebih dari puas," ujar Tanta tentang kesannya masuk nominasi FFI 2015.

"Gue sih bersyukur aja, semoga ini bisa jadi inspirasi buat anak-anak lainlah. Kayak waktu di FFB, gue dedikasinya untuk aktor yang tingginya di bawah 165 cm, walaupun kita pendek kita masih bisa berkarya. Semoga ini bisa jadi inspirasi juga," ungkap pria berusia 34 tahun ini.


HARUS MAKSIMAL WALAU 'HANYA' PERAN PENDUKUNG

Dalam film 3 yang bergenre laga futuristis, tokoh yang diperankan Tanta bisa dikatakan tidak bernama, hanya disebut sebagai Tamtama, seorang anggota aparat negara yang mendampingi Kolonel Mason, yang diperankan aktor senior Piet Pagau. Kemunculan Tamtama termasuk mengejutkan, karena ia baru benar-benar muncul di penghujung film, dan terungkap sebagai salah satu sosok antagonis utamanya. Sempitnya waktu dan besarnya peran ternyata memberi tantangan berat bagi Tanta. Karena itulah ia menganggap perannya di film 3 sebagai yang paling ia sukai dan banggakan, bahkan sebelum diakui di FFI.

"Kalau di 3, karakter gue itu kuncinya. Jadi gue harus bisa di atas dari semua, dan itu holy crap susah banget, karena pemainnya kuat-kuat semua. Itu Anggy juga pertama ngomong, 'Ta, oom Piet Pagau itu kharismanya kuat sekali, lo harus melebihi dia.' Wah, gimana caranya? Anggy kasih tantangannya begini, 'Waktu lo keluar, satu dua jam ke belakang itu udah doesn't matter anymore.' Wah gila. Tapi ya karena itu, gue harus melakukan sesuatu yang bisa menonjol," jelas Tanta, yang dalam film tersebut juga harus lakoni adegan silat.

Tanta sendiri belakangan menjadi salah satu aktor yang sangat produktif di layar lebar. Setelah Soekarno, ia terlibat dalam film Negeri Tanpa Telinga, Guru Bangsa: Tjokroaminoto, Surga yang Tak Dirindukan, 3 Dara, dan muncul sekilas di Filosofi Kopi dan Lily: Bunga Terakhirku. Ia pun sebentar lagi akan merilis laga komedi Skakmat. Sebagian besar film tersebut masih menempatkan Tanta dalam posisi peran pendukung. Akan tetapi, Tanta mengaku tidak pernah mempermasalahkannya.

"Waktu itu pernah ada yang mention gue, 'Sekali lo menang (penghargaan) di supporting, lo selamanya akan tetap jadi supporting actor.' Buat gue nggak apa-apa sih, selama gue emang support film yang bagus. Dan, menurut gue, justru itu tantangan seorang aktor. Kalau pemeran utama, ada waktu untuk membangun karakter dalam film supaya bisa kena ke penonton. Sementara supporting itu berada di tengah-tengah, tapi gimana caranya lo tetap matters di ceritanya, nggak cuma sekilas doang. Karena waktu untuk peran gue sangat sedikit, gue harus kasih impact, nggak bisa ala kadarnya," paparnya.

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News