1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Teddy Soeriaatmadja: Cerita Film Jadi Tidak Masuk Akal Jika Disensor

Angga Rulianto | 26 Januari 2015 10:00
Copyright: Muvila.com
Sutradara film Teddy Soeriaatmadja bicara soal kenapa dia menyesal karena telah memutar film Lovely Man di bioskop-bioskop.

Muvila.com – Teddy Soeriaatmadja kebingungan mencari jawaban saat diminta melanjutkan kalimat, "Teddy Soeriaatmadja tak akan bisa menjadi filmmaker, jika..." Sutradara sekaligus penulis skenario kelahiran 7 Februari 1975 ini langsung tertawa sambil mengeluh. Baginya, pertanyaan tersebut terbilang susah. Butuh waktu nyaris satu menit bagi sutradara Lovely Man dan Something in the Way ini untuk memikirkan tentang hal yang menyebabkan dirinya jadi pembuat film.

Maklum, Teddy sebenarnya bukanlah lulusan sekolah film. Masa kuliahnya dari program sarjana hingga magister dihabiskan untuk memelajari soal human behaviour di Newport University di London. Suami dari aktris Raihaanun ini bahkan juga sempat bekerja di sebuah perusahaan minuman terkenal sebelum kemudian bikin film pendek Culik pada tahun 1998 dan beberapa video klip serta iklan TV.

Momen yang ditunggu-tunggu Teddy pun tiba. Ia akhirnya menulis dan menyutradarai Banyu Biru (2004), Ruang (2006), remake Badai Pasti Berlalu (2007), Namaku Dick (2008), dan Ruma Maida (2009). Ketika ia berhasil melanjutkan kalimat "Teddy Soeriatmadja tak akan bisa menjadi filmmaker, jika...", langsunglah terlihat bahwa membuat film adalah panggilan hatinya.

Perihal 'bikin film dari hati' ini, Teddy mewujudkannya lewat tiga film terakhir, yaitu Lovely Man (2011), Something in the Way (2013), dan About a Woman (2014) yang world premiere di Singapore International Film Festival pada Desember tahun lalu. Inilah trilogi film yang dibuat dengan bujet kecil berasal dari uang milik Teddy sendiri, syuting gerilya, dibuat sesuai keinginan Teddy, dan dibungkus dengan tiga tema. "Sexuality, religion, dan kemunafikan," ungkapnya.

Seksualitas terlihat jelas dalam Lovely Man, yang dibintangi Donny Damara dan Raihaanun, serta membuat Teddy diganjar gelar Sutradara Terbaik dalam beberapa penghargaan film di dalam maupun luar negeri. Di sisi lain, Lovely Man juga membuat Teddy mempertanyakan penilaian Lembaga Sensor Film (LSF) dalam memangkas filmnya itu. Sampai-sampai, sensor dari LSF itu rupanya bikin Teddy bilang, "Agak menyesal sih tayangin Lovely Man di Indonesia."

Karena itulah, Teddy memutuskan untuk tidak menayangkan Something in the Way di bioskop-bioskop Indonesia. Dia tak mau filmnya kena gunting sensor, lalu lebih memilih untuk memutar film yang dibintangi Reza Rahardian dan Ratu Felisha itu di festival-festival film. Something in the Way yang menyinggung isu religi itu sendiri menorehkan prestasi dengan world premiere dan masuk seksi Panorama dalam Berlin International Film Festival (Berlinale) ke-63 pada tahun 2013.

Apa lagi yang diungkap Teddy Soeriaatmadja selain keheranannya soal sensor film? Simak video wawancaranya ini.

 

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News