1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. ARTIKEL FILM

Viva Westi, Sutradara yang Mudah Kagum dengan Film Lain

Reino Ezra | 25 Februari 2016 13:00

Sutradara film Rayya dan Jenderal Soedirman ini mengaku bukan sineas yang terpintar.

Muvila.com – Di antara sineas perempuan Indonesia yang aktif saat ini, nama Viva Westi menjadi salah satu yang cukup sering disebutkan. Tahun lalu, sutradara ini merilis film biografi pahlawan nasional, Jenderal Soedirman, dan sebelumnya pernah mendapat pengakuan di ajang penghargaan film lewat Rayya Cahaya di Atas Cahaya (2012) dan May (2008).

Pencapaiannya saat ini sebagai sutradara dan penulis skenario ternyata bermula cukup unik. Awalnya adalah pertemuannya dengan Garin Nugroho untuk diajak berakting. 

"Saya selalu bisa nyebut bahwa Garin Nugroho yang membuat saya bisa ada di sini. Ketemu di jalan, dipanggil, casting, menolak main, dipaksa, dan akhirnya jadi pemain di film Surat untuk Bidadari," ungkap Viva saat bertandang ke kantor Muvila di Jakarta, pekan lalu.

Wanita yang kemudian memilih jurusan penyutradaraan tersebut melanjutkan, "Setelah itu saya sekolah di IKJ (Institut Kesenian Jakarta, red), lalu memutuskan saya nggak berbakat jadi pemain. Kayaknya susah menghafal dialog, jadi saya salut sama pemain yang bisa hafal dialog panjang-panjang, dengan emosi dan segala macam."

Kecintaannya pada film juga membuat sineas kelahiran Manokwari, Papua pada 21 September 1972 ini menjadi mudah kagum pada kemampuan dan karya orang lain. Padahal, dengan pengalaman dan karya-karyanya yang tidak sedikit, Viva bisa saja merasa kebal dengan seni membuat film. Namun, kecenderungan untuk mengagumi karya film tak pernah hilang dari Viva. Hal itu pula yang membuatnya tak punya panutan tertentu dalam dunia film, karena akan selalu berubah dari waktu ke waktu.

"Saya kagum sama semua orang yang bisa membuat film, apa pun itu filmnya, menurut saya dia sudah mencipta sesuatu. Karena membuat film ini 'kan dari tiada jadi ada. Sampai detik ini setiap saya nonton film Indonesia, saya selalu merasa, 'Dia hebat ya.' Karena terbayang, bikin film 'kan bukan sekadar membuat, tapi ada rasa yang diungkapkan, pengetahuan yang harus digunakan," jelas Viva, yang menyebutkan film Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014) sebagai film Indonesia terakhir yang meninggalkan kesan mendalam baginya.

BANGGA DENGAN PROSES

Sebelum dikenal sebagai sutradara film layar lebar, di awal era 2000-an Viva aktif berkarya sebagai penulis skenario dan sutradara untuk film televisi (FTV). Ia pernah terlibat dalam beberapa judul FTV di program I-Sinema di Antv dan juga ikut merancang seri Malam Pertama di SCTV. Viva juga menggarap beberapa FTV menyambut Tahun Baru Imlek, seperti Jangan Panggil Aku Cina (2002), Wo Ai Ni Indonesia (2004), dan Bakpao Ping Ping, yang berhasil raih Piala Vidia di Festival Film Indonesia (FFI) 2011.

Kiprah Viva di layar lebar justru bermula ketika menggarap sebuah segmen di dokudrama omnibus Serambi (2005), bersanding dengan Garin Nugroho, Tonny Trimarsanto, dan Lianto Luseno. Viva kemudian debut sebagai sutradara film panjang lewat film horor Suster N (2007). Satu tahun kemudian, ia menggarap film berlatar tragedi kerusuhan 1998, May, yang berhasil mendapat 11 nominasi Piala Citra FFI 2008.

Filmografinya berlanjut dengan menyutradarai film horor Pocong Keliling (2010), serta menulis skenario film-film karya Nayato Fio Nuala, seperti Gaby dan Lagunya (2010), 18+ (2010), dan Affair (2011). Selepas itu, Viva pun lebih banyak menggarap skenario film drama yang juga disutradarainya sendiri, seperti Rayya, Mursala (2013), Ketika Bung di Ende (2013), hingga Jenderal Soedirman.

Dengan deretan pengalamannya, baik dari TV, dokumenter, dan film layar lebar, Viva mengaku bangga telah melewati berbagai proses sebagai pembuat film. Soalnya, ia merasa bukan seorang yang sangat cerdas, sehingga dalam membuat film pun ia harus melewati berbagai proses belajar.

"Karena bagaimanapun juga, saya ngelewatin proses dari mengurus skrip, mungkin itu posisinya asisten sutradara yang kelima, sampai jadi yang kedua dan akhirnya yang pertama. Saya cukup bangga dengan proses yang saya alami. Saya nggak menyuruh semua orang untuk mengikuti jalan saya, karena bagaimana pun masing-masing punya cara. Tapi, saya merasa bukan orang yang pintar cerdas luar biasa yang tanpa pengalaman bisa jadi sutradara," paparnya.

Viva juga menyatakan bahwa segala pengalamannya itu membuatnya semakin menyadari posisinya sebagai seorang sineas. Menurutnya, ia tidak lagi dalam tahap mencoba-coba, melainkan terus mencari tema-tema yang memang sesuai dengan letak kekuatannya. Viva memperolehnya dengan cara yang cukup keras, yaitu dari kegagalan beberapa judul film karyanya di pasaran.

"Begini, nggak semua kita mempunyai kemampuan seperti dewa. Kalau buat saya khususnya, nggak mungkin bisa semua dibikin. Misalnya, ternyata saya nggak terlalu pintar bikin horor, nggak bisa bikin film seperti Pocong Keliling yang ada bumbu seksnya, ternyata saya nggak menguasai itu. Semakin ke sini aku semakin mengerti apa yang harus aku buat, bukan sekadar untuk mencoba-coba, atau sebagai sutradara harus bikin semuanya," ungkap Viva.

"Saya belum pernah bikin film komedi. Dan, menurut saya juga kayaknya saya nggak punya kemampuan. Terakhir saya nonton filmnya Raditya Dika, Single, dan saya merasa dia hebat banget bisa bikin itu. Jadi, menurut saya masing-masing punya kekuatan, keunikan, punya kemampuan yang berbeda-beda," tambahnya.

Foto: Ivan Marlianto

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News