1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. REVIEW FILM

Marlina: Sebuah Kisah Tak Biasa dari Tanah Sumba

Tim Editor | 29 November 2017 09:00
Copyright: © marlinathemurderer
Boleh dibilang film ini begitu ritmis, tetapi di satu sisi juga menyuguhkan kemirisan.

Muvila.com – Penulis: Iwan Tantomi

Film Indonesia belakangan mulai naik daun. Bukan saja dari genre horror maupun komedi, film-film dari genre aksi, drama, thriller atau yang menggabungkan ketiganya juga mampu menyita perhatian. Setidaknya itulah yang digambarkan dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak.

Boleh dibilang film ini begitu ritmis, tetapi di satu sisi juga menyuguhkan kemirisan. Dalam kata lain, selain menyajikan ketegangan, ‘Marlina’ juga menghadirkan hiburan. Sang sutradara, Mouly Surya, mengemas filmnya dalam empat babak yang apik dan penuh rima.

Sosok Marlina diperankan oleh Marsha Timothy. Ia memerankan karakter sebagai seorang janda yang tinggal sebatang kara di puncak bukit, sebuah sabana di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

© marlinathemurderer

Babak demi babak di film ini perlahan menyingkap sisi Marlina yang ternyata berselimut misteri. Marlina begitu memendam emosi, saat gerombolan penyamun mendatangi rumahnya. Bukan saja merampas hewan ternak, mereka pun tak luput merenggut harga diri Marlina.

Namun, Marlina tak tinggal diam. Ia justru memilih memenggal kepala para perampok tersebut. Babak baru hadir, menggambarkan Marlina mengembara, mencari keadilan tepatnya, sekaligus melakukan penebusan dosa. Ia sadar apa yang dilakukannya bakal membawa dampak buruk baginya.

© marlinathemurderer

Di sisi lain, kisah Marlina juga menjadi sintesis potret kemiskinan di pelosok Indonesia. Gara-gara hal itu, Marlina tak mampu memakamkan suaminya lantaran terbentur biaya. Jenazah suaminya pun hanya dijadikan mumi yang diletakkan di sudut rumahnya yang sederhana. Hal lainnya yang juga turut terlukis dalam kisah Marlina, bagaimana transportasi di Sumba yang belum memadai.

Hanya untuk menuju ke kantor polisi,  Marlina perlu menunggu bus truk berjam-jam. Itu jika ada, jika tidak, mau tak mau harus menunggangi kuda agar bisa sampai ke sana. Sayang, sesampainya di kantor polisi, aparat justru bingung tak mampu memberikan solusi bagi kasusnya.

Hiburan di film ini begitu kentara dari karakter lain Marlina yang ternyata cukup jenaka. Beragam dialek local, dialog, musik pengiring hingga panorama Sumba, begitu memikat mata pun memanjakan telinga. Rasanya 1 jam 30 menit menonton film ini, tak akan ada kata membosankan.

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News