1. HOME
  2.   »  
  3. FILM
  4.   »  
  5. REVIEW FILM

MOVIE REVIEW: Sahar, Gadis Muslim Afghanistan yang Terusir di Kanada

Angga Rulianto | 8 Juli 2015 18:00
Copyright: Sahar
Tonton film pendek Sahar dari Kanada yang pernah lolos seleksi untuk diputar di Toronto International Film Festival 2014.

Muvila.com – Film pendek ini dibuka dengan keheningan malam dari dalam sebuah mobil. Tapi keadaan itu tak berlangsung lama. Segera, benda keras menghantam berkali-kali kaca depan mobil sampai pecah. Si pemukul tak terlihat, tapi kita tahu dia tak sendirian. Inilah sebuah aksi vandalisme. Adegan langsung berpindah ke sebuah ruang interogasi kepolisian yang diperlihatkan dari sudut pandang kamera CCTV (closed-circuit television). 

Dari dua adegan awal tadi—yang semuanya berada di latar ruang tertutup dan tak berhubungan, sutradara Alexander Farah tengah bermain-main dengan kronologi waktu dan ruang privasi dalam penuturan film pendek garapannya, Sahar. Itulah yang terlihat secara verbal maupun nonverbal dari pembukaan film Sahar ini. 

Adegan selanjutnya adalah percakapan pasangan suami-istri. Mereka bersama kedua anaknya, Sahar dan Nadim yang tengah beranjak dewasa, merupakan keluarga muslim sekaligus imigran legal dari Afghanistan yang kini menetap di Kanada. Salah satu topik yang dibicarakan suami-istri adalah perilaku Sahar yang kerap pulang malam dengan berbagai dalih. 

Ditambah lagi, Sahar meminjam uang adiknya dalam jumlah yang tak sedikit. Sang ayah kesal bukan main dan menyalahkan istrinya yang dianggap terlalu memanjakan dan membela Sahar. Maka, ketika puteri semata wayangnya itu ketahuan pulang larut malam, murka ayahnya tak tertahankan lagi. Sahar menangis dan terusir. 

Kita sebagai penonton barangkali menebak-nebak apakah akan terjadi perilaku kekerasan fisik di ranah domestik (rumah tangga) dalam adegan Sahar yang pulang larut malam. Tapi, nyatanya itu tak terjadi. Walau kekerasan secara psikologis tetap saja menyeruak dari tangisan Sahar yang terusir dari rumahnya sembari meniti di trotoar pada tengah malam. Tangisan Sahar itu merefleksikan keadaan yang ironis. 

Soalnya, Sahar—dan juga keluarganya—telah terusir dari Tanah Air-nya dan tercerabut dari kultur dan nilai-nilai tradisional bangsanya, sehingga sekarang mereka harus beradaptasi dengan sistem kemasyarakatan baru ala Barat. Kondisi ironis ini makin mengemuka karena Sahar malah harus terusir dari rumahnya, tempat ruang privasinya berada dan tempat yang semestinya melindunginya dari potensi bahaya apa pun. 

Kalau mau dirunut dan diinterpretasi, musabab terusirnya Sahar bukan akibat dia membandel terhadap orang tuanya karena pulang larut malam—padahal dia sudah beranjak dewasa. Ada penyebab yang sifatnya lebih mendalam dari itu. Di titik ini, keberadaan dan sikap sang adik, Nadim, menjadi penting. Sebab, Nadimlah yang dinterogasi polisi di awal film Sahar. Nadim yang tampak penurut pada ayah-ibunya tapi cuek, sejatinya jugalah seorang pengamat yang punya rasa kasih sayang. 

Dia sadar dirinya tak punya kuasa di ruang dan urusan domestik dalam keluarganya, di mana sang ayah menjadikan dirinya patron, sesuai dengan tradisi dan nilai-nilai masyarakat muslim Afghanistan. Sekalipun begitu, sikap cuek dan diam Nadim juga menyiratkan bahwa ia tak ingin kakaknya mbalelo sekaligus tertimpa keburukan. Makanya, ia tak mengangkat panggilan telepon Sahar yang meminta dibukakan pintu saat pulang larut malam. Selain kesal, ia ingin Sahar sadar akan kesalahannya dengan cara membiarkan sang ayah yang menghukum. 

Namun, hal yang terjadi muncul kemudian adalah penyesalan Nadim. Menyesal karena apa? Sutradara dan penulis skenario, Alexander Farah, memang tak memaparkannya secara jelas. Ia membiarkan kita memaknai penuturan cerita yang agak tak linear beserta konflik yang terjadi di dalamnya. Walau begitu, sejak awal Alexander sudah memberikan sebuah konteks sosial yang kemudian juga bisa ditarik untuk menjadi tanda-tanda perihal penyebab penyesalan Nadim. 

Konteks itu mewujud dalam adegan dan karakterisasi para tokoh Sahar. Mulai dari aksi vandalisme, interogasi polisi terhadap Nadim, dan keluarga Sahar dan Nadim yang ternyata imigran dari Afghanistan. Inilah negara Islam yang pernah jadi bulan-bulanan militer Amerika Serikat dan sekutunya, karena pemerintah Taliban yang berkuasa dituduh telah bersekongkol dengan kelompok teroris Al-Qaeda dan menyembunyikan Osama Bin Laden

Maka, konteks tersebut adalah konflik horizontal di masyarakat yang memiliki sentimen maupun sikap anti-Islam yang kerap terjadi di banyak negara pada masa post-9/11. Dalam konteks itu, film pendek Sahar menyajikan isu yang sangat penting untuk tidak bisa diabaikan hingga sekarang. 

Tonton film pendek Sahar (2014) di bawah.

 

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News