1. HOME
  2.   »  
  3. TV
  4.   »  
  5. ARTIKEL TV

Game of Thrones Gambarkan Situasi Sosial Politik Dunia?

Angga Rulianto | 11 Mei 2015 13:00
Copyright: Muvila
Kekerasan yang brutal dalam serial Game of Thrones dinilai Profesor Dominique Moisi mirip dengan situasi dunia sekarang ini.

Muvila.com – Jangan remehkan cerita dan karakter serial-serial televisi populer produksi Hollywood maupun negara lain, seperti Inggris. Sebab, kehadiran mereka tak hanya untuk menghibur—sehingga kerap bikin kita jadi kecanduan—dan menjadi bahan obrolan dengan siapa pun. Akan tetapi, serial-serial tersebut telah menjadi representasi maupun cara analisa tentang situasi politik dan sosial global. Mulai dari Game of Thrones, Homeland, House of Cards, hingga Downtown Abbey.

Menurut Dominique Moisi, profesor dari L'Institut d’études politiques de Paris dan Penasihat Senior di French Institute for International Affairs (IFRI), kemungkinan analisa-analisa sosial dan politik yang ditawarkan dalam cerita berbagai serial televisi itu dapat digunakan untuk memahami, misalkan, perbedaan antara Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

"Netanyahu masih tertahan di season ketiga Homeland—yaitu terobsesi dengan Iran—sedangkan Obama, yang mulai memasukkan ancaman terbaru Rusia dalam hitungan strateginya, telah berada dalam season ketiga House of Cards," ujar Profesor Dominique yang juga mengajar di King's College London, seperti dikutip dari artikelnya "Why We Need 'Game of Thrones'" di Project Syndicate.

Perbandingan seperti ini dapat terjadi karena skenario berbagai serial televisi tersebut mampu menjadi semacam cermin bagi masyarakat. Sehingga masyarakat seperti melihat kecemasan dan keinginan tentang beberapa hal yang terkait dengan kehidupannya dapat terwakili dalam cerita serial-serial tersebut. Hasilnya, serial-serial itu pun menuai popularitas yang besar.

Profesor Dominique lalu mencontohkan serial drama populer Downton Abbey, yang belatar di Inggris pada rentang tahun 1912 hingga 1920-an dengan kisah tentang keluarga aristokrat Crawley dan para pelayannya. Mengapa serial ini mampu menggaet jutaan penonton dari berbagai belahan dunia mulai dari benua Eropa, Amerika, hingga Asia?

Menurut kreator serial Downton Abbey, Julian Fellowes, jawabannya tak bisa lepas dari pencarian kita akan keteraturan dalam dunia yang semrawut ini. Kini banyak orang yang alami disorientasi, sehingga mereka menyukai gambaran dunia yang rapi dan memiliki peraturan yang ketat dalam kisah Downton Abbey. Rumah keluarga Crawley tak ubahnya sebagai tempat perlindungan bagi para karakternya.

"Hal itu juga barangkali memberikan perasaan aman bagi penonton, jalan keluar yang bisa diperkirakan untuk keluar dari situasi penuh gejolak dalam kehidupan sekarang, dan menghindari masa depan yang tak jelas," tulis Dominique Moisi, mengutip perkataan Julian.

Lalu bagaimana dengan serial televisi paling populer sekarang ini, Game of Thrones? Seperti kita tahu, serial epik fantasi ini memiliki bujet raksasa, jalan cerita yang rumit, dan memuat adegan-adegan kekerasan yang brutal. Tak heran jika banyak amatan dari kalangan akademisi bidang politik internasional yang menyebut bahwa Game of Thrones menampilkan pandangan realis tentang dunia kiwari.

Dari situ muncul pertanyaan penting, yakni apakah kebiadaban dalam Game of Thrones, sebut saja aksi pemenggalan kepala, perkosaan, siksaan secara seksual, dapat mendorong munculnya taktik-taktik serupa seperti yang kini dipraktikkan kelompok teror-fundamentalis Boko Haram maupun ISIS?

Dalam level yang lebih filosofis, dunia serial ini—yang merupakan kombinasi antaran mitologi kuno dan zaman pertengahan—tampak ingin menangkap gabungan antara ketakutan dan ketertarikan yang dialami banyak orang sekarang ini. Menurut Dominique Moisi, Game of Thrones adalah gambaran akan sebuah dunia yang fantasi, tidak bisa diprediksi, dan amat menyakitkan.

"Sebuah hal yang kompleks yang bahkan membuat bingung para penonton setianya. Dalam hal ini, serial Game of Thrones banyak kemiripan dengan dunia yang sekarang kita tinggali," ujar Dominique.

 

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News