1. HOME
  2.   »  
  3. TV
  4.   »  
  5. ARTIKEL TV

KPI: Masih Ada Tayangan Ramadan Tidak Ramah Penonton

Mia Vita Della | 30 Juni 2016 12:00
KPI Pusat dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan sejumlah evaluasi terhadap tayangan Ramadan.

Muvila.com – Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melakukan evaluasi terhadap program televisi selama Ramadan. Selama masa pemantauan, mereka masih menemukan beberapa stasiun televisi yang melakukan pelanggaran.

Menurut Wakil Ketua KPI Pusat Idy Muzayyad, mengutip laman KPI, program yang ditemukan memiliki potensi tinggi melakukan pelanggaran adalah acara variety show komedi. Padahal, menurut Idy, KPI sudah lama mengingatkan akan resiko terjadinya pelanggaran dalam acara seperti ini.

“Kami sudah melakukan berbagai cara agar terciptanya siaran ramadan bermartabat dan ramah. Sudah sejak empat bulan lalu kami mengumpulkan semua pihak untuk bahas persiapan proses di hulu penyusunan program ramadan mana yang tidak boleh dan boleh ditayangkan dalam siaran ramadan,” jelas Idy di depan peserta dan wartawan yang hadir dalam acara evaluasi 15 hari tayangan ramadan di kantor MUI Pusat, Kamis, 23 Juni 2016.

Memang hanya beberapa stasiun televisi saja yang masih menyiarkan program acara ramadan dengan konsep variety show komedi. Stasiun televisi lainnya sudah banyak yang beranjak dengan program-program yang lebih bagus, seperti ceramah talkshow, audisi, hingga feature bertemakan ramadan.

“Penemuan pelanggaran dalam acara variety show komedi ramadan ini selaras dengan temuan MUI,” kata Idy.

Meskipun begitu, lanjut Idy, dari pengaduan yang masuk ke KPI Pusat pada ramadan tahun ini mengalami penurunan ketimbang pengaduan masyrakat pada ramadan tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu, Koordinator Bidang Isi Siaran sekaligus Komisioner KPI Pusat Agatha Lily menyampaikan, KPI Pusat sudah melayangkan surat edaran ke semua lembaga penyiaran perihal apa yang tidak boleh disiarkan dalam program acara bernapaskan ramadan. Adapun hal-hal yang tidak boleh tersebut, yakni:

1. Candaan atau perilaku kasar dan/atau merendahkan martabat manusia, termasuk di dalamnya adegan melempar bahan-bahan ke wajah dan/atau bagian tubuh seseorang, menyemburkan makanan dan/atau minuman dari mulut ke wajah orang lain;

2. Menyiarkan konflik atau mengadu orang serta secara provokatif dan eksplisit mengungkapkan aib/kerahasiaan seseorang;

3. Materi agama yang berisi muatan yang mempertentangkan pandangan, paham ataupun keyakinan (khilafiyah), baik didalam maupun antar agama tertentu.

4. Menayangkan siaran yang bermuatan mistik, horor dan supernatural yang menimbulkan ketakutan dan kengerian pada khayalak

5. Menyisipkan iklan niaga pada saat adzan;

6. Adegan-adegan yang seronok dan vulgar atau yang mengarah kepada hubungan seks atau keintiman pria dan wanita;

7. Pakaian minim dan/atau goyangan erotis yang mengeksploitasi bagian tubuh tertentu; serta

8. Muatan lainnya yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Lily juga menyebutkan program-program yang mendapatkan peringatan dan teguran KPI pada bulan ramadan ini. Ada tiga program bertemakan ramadan yang mendapatkan peringatan KPI Pusat, yakni Pesbukers Ramadhan ANTV, Majelis Sakinah I-News TV, dan OVJ Sahur Lagi Trans 7.

Kemudian, lanjut Lily, ada lima program acara yang mendapatkan teguran KPI, yakni Obsesi Global TV, Insert Update Trans TV, Insert Siang Trans TV, CCTV Trans 7, dan Apa Kabar Indonesia Malam TV One.

Sementara, Ketua Umum MUI KH Dr. Ma’ruf Amin menyayangkan adanya siaran televisi yang tidak sejalan dengan semangat menjaga kekhusyukan dan peribadatan Ramadan. Padahal, menurutnya, umat Islam sangat rindu dengan tayangan televisi yang ramah dengan bulan Ramadan.

“Kita akan menyerahkan laporan ini ke Komisi Penyiaran Indonesia untuk ditindaklanjuti. MUI tidak punya wewenang untuk memberikan sanksi, sepenuhnya kita serahkan ke KPI berikut dengan argumentasi dan metodologi pemantauan yang kita gunakan,” kata Kiai Ma’ruf.

Ketua MUI Pusat berharap adanya perubahan pada program yang tidak sejalan dengan konteks bulan susi ini karena masih ada waktu untuk memperbaiki siaran di bulan Ramadan tahun ini,” jelas Kiai Ma’ruf. 

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News