1. HOME
  2.   »  
  3. TV
  4.   »  
  5. ARTIKEL TV

Desi Anwar: Demi Persaingan, Stasiun TV Harus Berani

Lusi Triana | 4 Januari 2016 12:00
Walau politikus ada yang miliki stasiun TV, tapi kini dunia televisi alami kemajuan dari sisi demokrasi dalam pemberitaan.

Muvila.com – Persaingan televisi semakin ketat. Hingga kini telah ada 12 stasiun TV terestrial yang siaran secara nasional di Indonesia. Tentunya, setiap stasiun TV berlomba-lomba untuk menyuguhkan program menarik guna mendapatkan perhatian dari banyak pemirsa. Tak hanya program hiburan, tapi juga program beritanya. Menurut news anchor senior di Indonesia, Desi Anwar, yang terpenting bagi sebuah stasiun TV untuk menghadapi persaingan, yakni dengan berani menjaga kualitas program serta berinovasi terus-menerus guna terjaga brand dan image program tersebut.

“Yang penting itu adalah harus selalu menjaga kualitas, susah memang, makanya kompetisi atau persaingan sehat itu sebenarnya membuat TV itu membuat rejunevasi terus menerus. Lihat saja misalnya TVRI, selama 30 tahun tidak ada kompetisi, akhirnya begitu-begitu saja. Waktu RCTI ada, dengan segala macam kekurangan dan kesalahan yang dilakukan, orang langsung larinya ke RCTI. Tapi setelah ada kompetitor lain, harus ada upaya-upaya agar lebih menarik pilihan programnya, seperti menggunakan presenter-presenter yang menarik,” bebernya saat ditemui di kawasan Darmawangsa, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Desi menambahkan, “Kalau televisi itu memang sangat berkaitan dengan aspek audio visual. Tapi kalau semakin banyak pilihan, kadang-kadang pemirsa juga akhirnya kembali ke yang dia kenal. Tapi kita juga harus realistis di zaman sekarang. Kalau dulu mungkin rata-rata orang menonton TV bisa 15 menit dan setengah jam, sekarang mungkin untuk stay selama 5 menit saja susah tanpa mengganti channel. Jadi kita juga tidak bisa mengharapkan penonton harus nonton dari pagi sampai siang, nggak realistis,” lanjutnya.

Demi mendapatkan pemirsa yang banyak, selain mempertahankan kualitas, stasiun TV juga harus mempertahankan rating dan share acaranya dengan menghasilkan berbagai acara berbeda dari segi kecepatan, meski program seperti ini juga rentan menimbulkan kesalahan ataupun kekurangan dari segi analisa. Meski demikian, jika membutuhkan analisa mendalam tapi membutuhkan waktu lama untuk menayangkannya juga akan membuat pemirsa bertanya-tanya kenapa stasiun ini belum juga menayangkan berita yang tengah hangat dibicarakan di masyarakat.

“Itu Metro TV, stasiun TV pertama berita di Indonesia, khusus berita. Jadi kalau dulu di RCTI itu ada Seputar Indonesia, ada Nuansa Pagi, ini 24 jam isinya Metro TV seperti itu. Seperti CNN, ya apa yang terjadi? TV-TV lain mengikuti, TV One, Kompas TV, ada Berita Satu dan lain sebagainya. Dengan pola yang sama, pemirsa semakin dimanjakan. Pemirsa juga semakin kritis, jadi tergantung pada kredibilitas atas apa yang dihasilkan oleh masing-masing medium itu. Kalau kita hanya jadi satu-satunya, ya kita jadi patokan. Tapi pas ada kompetitor, itu lain cerita, ini menarik,” ungkapnya.

Dengan banyaknya kompetitor, stasiun TV berita pun berlomba untuk tampil lebih menarik lagi dengan menghadirkan presenter berita yang punya jam terbang banyak. Sehingga, untuk menghadapi persaingan, mereka pun akan menyuguhkan program di mana presenternya mampu memberikan pertanyaan yang berbobot sehingga program berita jadi lebih menarik bagi pemirsanya.

TELEVISI MILIK POLITIKUS

Selain menghadapi persaingan dengan berbagai stasiun TV lain di Indonesia, kepemilikan stasiun TV oleh para politikus juga menjadi fenomena di Indonesia, namun kondisi ini tidaklah baru. Contohnya dalam Pemilihan Presiden lalu di Indonesia yang membuat beberapa stasiun TV memihak calon presiden tertentu. Desi Anwar mengatakan, fenomena ini memang telah terjadi sejak zaman Orde Baru ketika sensor-sensor masih kerap terjadi dalam dunia televisi di Indonesia. Justru, kini dunia televisi sudah banyak mengalami kemajuan dari sisi demokrasi dalam hal pemberitaan.

“Kita sebagai jurnalis berusaha melakukan profesional, tapi kecuali semua yang dilakukan itu dibiayai oleh publik, tapi ini tidak kan, ini dimiliki, ada pemegang sahamnya, iklannya juga iklan dari perusahaan. Yang dimiliki publik itu adalah frekuensinya, tapi sekarang juga tidak akan demikian karena nanti akan menggunakan frekuensi digital. Jadi nanti ada, sekarang aja ada, TV yang khusus untuk makanan, TV hanya khusus untuk masak-memasak, TV yang hanya khusus untuk motor mobil dan lain sebagainya," ujar Desi.

Ia melanjutkan, "Jadi kita sebagai jurnalis juga harus paham dan harus bisa menempatkan diri sebagai jurnalis. Kita punya kode jurnalistik pada etiknya jurnalistik. Pemilik televisi juga mau tidak mau harus jeli melihat kebijakan mana yang bisa mendapatkan pemirsa lebih banyak atau yang menjauhkan pemirsa. Itu saja, ini kan konsekuensi. Kalau misalnya dia gunakan TV untuk kepentingan pribadinya atau politisnya atau golongannya, itu kan ada konsekuensinya,” paparnya.

Konsekuensi yang diterima stasiun TV tersebut mungkin mendapat cacian dari para pemirsa. Namun dari sisi bisnis, stasiun TV tersebut bisa mendapat peningkatan. “Mungkin dari kita segi profesionalitas, mungkin sesuatu yang mengganggu. Karena pada akhirnya kita juga harus tahu bahwa ini adalah sebuah bisnis, ya kompetisinya itu sangat mendarah-darah, jumlah pemirsanya juga itu-itu saja, iklannya juga segitu-segitu saja, dan realitanya sekarang berbeda. Kalau dulu tuh ada loyalty,” tambahnya.


Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News