1. HOME
  2.   »  
  3. TV
  4.   »  
  5. ARTIKEL TV

Rating Tinggi Tak Pengaruhi Banyaknya Iklan

Lusi Triana | 19 Mei 2016 17:30
Rating nyatanya tak bisa menjadi patokan utama terhadap banyaknya iklan dalam sebuah program acara televisi tertentu.

Muvila.com – Iklan masih menjadi sumber pemasukan utama bagi stasiun televisi. Untuk itu, stasiun televisi pun berlomba-lomba untuk membuat tayangan yang mampu menarik banyak penonton sehingga para pengiklan ikut kepincut. 

Akan tetapi, menurut data Nielsen Advertising Information Services, rating tinggi yang dimiliki sebuah program tidak serta-merta menambah jumlah pengiklan. Menurut Direktur Media, Nielsen Indonesia Hellen Katherina, rating memang penting, tapi bukan jadi patokan untuk menarik perhatian pengiklan.

“Program dengan rating yang tinggi tak selalu menarik pengiklan karena ditentukan juga oleh kecocokan dengan produk serta tidak bentrok dengan kompetitor produk tersebut. Selain itu, kebanyakan belanja iklan juga ditentukan oleh keinginan pemilik produk untuk membangun image produknya agar sesuai dengan audience-nya,” jelas Hellen di Gedung WTC Jakarta pada Selasa, 17 Mei 2016.

Hellen juga memaparkan bahwa belanja iklan di televisi paling banyak dialokasikan pada jam tayang utama (18.00 – 22.00), yaitu sebesar Rp 6,4 triliun. Angka ini melebihi seperempat dari total belanja iklan yang mencapai Rp 24,2 triliun.

Jika melihat dari tipe program acara, program Informasi dan Berita, yang memiliki rating rata-rata masing-masing sebesar 0,5 persen dan 0,3 persen, tetap meraih nilai belanja iklan yang cukup tinggi, yakni masing-masing Rp 3,4 triliun dan Rp 3 triliun. Perolehan ini lebih kecil bila dibandingkan dengan belanja iklan untuk program Film, yang memiliki rating rata-rata 1 persen, yaitu sebesar Rp 3,7 triliun.

BELANJA IKLAN ROKOK KRETEK JADI YANG TERBESAR

Pada kuartal pertama tahun 2016 ini, belanja iklan dalam industri televisi dan media cetak mengalami pertumbuhan yang cukup besar, yakni sebesar 24 persen. Hellen mengatakan, peningkatan ini akibat adanya peningkatan kepercayaan para pengiklan terhadap industri televisi. Angka itu juga merupakan pertumbuhan kuartal tertinggi dalam dua tahun terakhir.

“Setelah sempat melemah sejak semester dua tahun 2014, optimisme pasar sekarang sudah kembali menguat. Hampir semua top kategori menunjukkan peningkatan dalam belanja iklan. Tanda-tanda pemulihan sudah terlihat dari kuartal ketiga tahun 2015, dan sekarang kita lihat angka pertumbuhannya sudah kembali seperti sedia kala,” tutur Hellen.

Tipe pengiklan di televisi pun masih beragam. Namun, dari banyaknya produk, ternyata rokok kretek masih memberikan kontribusi tertinggi dalam belanja iklan dalam kuartal pertama tahun ini, yakni sebesar Rp 1,9 triliun. Pertumbuhan belanja iklan oleh produk rokok kretek ini sebesar 76 persen dibandingkan kuartal pertama pada tahun lalu.

Adapun produk kedua, yakni pemerintahan dan organisasi politik dengan total belanja iklan sebesar Rp 1,8 triliun dan tumbuh sebesar 76 persen, karena adanya kampanye Kementerian Kesehatan untuk program polio. Di urutan ketiga ada kategori produk perawatan rambut dengan belanja iklan Rp 1,3 triliun dan tumbuh 36 persen dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2015.

Foto: Ivan Marlianto

Read More

Editor's Pick

Comment

Latest News